PAHLAWAN

Tugu Baru Agar Warga Mengenal Jasa Kopral Syarif

Tugu itu disebut masyarakat sekitar sebagai Tugu Pahlawan Kopral Syarif Waluyo. Konon tugu itu dibangun masyarakat pada 1950 menggunakan

Penulis: cis | Editor: Darajat Arianto
Tugu Baru Agar Warga Mengenal Jasa Kopral Syarif - 20131028CIS_TUGU_PAHLAWAN_KOPRAL_SYARIF_3.jpg
TRIBUN JABAR/TEUKU MUH GUCI S
TUGU KOPRAL SYARIF - Tugu Pahlawan Kopral Syarif Waluyo di RT 03/06 Kampung Cijaruman, Desa Cimanggung, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur, Senin (28/10/2013).
Tugu Baru Agar Warga Mengenal Jasa Kopral Syarif - 20131028_cis_makam_kopral_syarif_cianjur1.JPG
TRIBUN JABAR/TEUKU MUH GUCI S
Makam Kopral Syarif Waluyo di Taman Makam Pahlawan di Desa Cimanggu, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, Senin (28/10/2013).
Tugu Baru Agar Warga Mengenal Jasa Kopral Syarif - 20131028CIS_TUGU_PAHLAWAN_KOPRAL_SYARIF_1.jpg
TRIBUN JABAR/TEUKU MUH GUCI S
TUGU KOPRAL SYARIF - Tugu Pahlawan Kopral Syarif Waluyo di RT 03/06 Kampung Cijaruman, Desa Cimanggung, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur, Senin (28/10/2013).

Oleh Teuku Muhammad Guci S

TUGU sejatinya dibangun untuk memperingati suatu peristiwa bersejarah atau menandakan suatu lokasi tertentu. Di RT 03/06 Kampung Cijaruman, Desa Cimanggung, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur, terdapat tugu yang dianggap memiliki sejarah penting bagi kemerdekaan Republik Indonesia.

Tugu itu disebut masyarakat sekitar sebagai Tugu Pahlawan Kopral Syarif Waluyo. Konon tugu itu dibangun masyarakat pada 1950 menggunakan batu bata yang tingginya lebih dari satu meter. Namun kondisi tugu kini memang tak utuh lagi. Akibat termakan usia, tugu itu rapuh dan hancur. Kini tugu itu pun menyisakan bongkahan bata yang tertanam di permukaan tanah.

Pada akhir September 2013, masyarakat yang peduli dengan sejarah pun berinisiatif membuat tugu baru di samping tugu lama. Hal itu dilakukan untuk mengenang para pejuang yang tewas dalam membela dan menjaga bumi pertiwi dari rongrongan penjajah. Kopral Syarif Waluyo adalah pejuang yang tewas di RT 03/06 Kampung Cijaruman itu.

"Kopral Syarif dari Resimen Tangerang tewas setelah mengadang konvoi pasukan Belanda saat Agresi Militer Belanda II pada 1948 untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Rebuplik Indonesia," kata tokoh masyarakat di Kampung Cijaruman, Abdul Jafar (64), kepada Tribun di lokasi tugu, Senin (28/10).

Abdul mengatakan, pembangunan tugu baru itu memang baru berjalan 80 persen. Adapun dananya merupakan swadaya masyarakat tanpa meminta dari pemerintah. Pengerjaannya pun dilakukan secara bergotong royong.

Direncanakan, tugu itu sudah selesai dibangun sebelum 10 November 2013, Hari Pahlawan. Pasalnya akan ada upacara kecil untuk mengenang perjuangan para pahlawan di depan tugu itu.

"Ciri dari tugu ini adalah di atasnya ada helm. Tapi karena helm sebelumnya sudah tidak ada, kami memasang helm tentara pada saat ini. Itu pun sumbangan dari warga yang keluarganya menjadi tentara," kata Abdul.

Diceritakan Abdul, Kopral Syarif adalah satu dari tiga tentara Republik Indonesia yang pulang dari Yogyakarta. Kala itu Kopral Syarif dan dua rekannya yang tidak diketahui namanya itu sedang bertugas menjaga kantong-kantong perjuangan di Kampung Cijaruman. Sejumlah wilayah di Cianjur, terutama di Kecamatan Cibeber, sempat menjadi markas tentara Belanda dalam Agresi Militer II berlangsung.

"Suatu ketika, satu kompi pasukan Belanda melintas Kampung Cijaruman dari arah barat. Melihat hal itu ketiga pejuang ini memutuskan dan memberanikan diri mengadang tentara Belanda," kata Abdul, yang mendapatkan cerita itu secara turun-temurun dari warga dan saksi sejarah di Kampung Cijaruman.

Baku tembak antara tentara Belanda dan ketiga pejuang berlangsung sengit. Ketiganya hanya berlindung di sebuah pohon besar di dekat berdirinya tugu pahlawan. Namun pejuang Indonesia tak menyangka jika ada sejumlah pasukan Belanda yang datang dari arah samping. Ketiga pejuang ini pun terkepung menghadapi serangan penjajah dari berbagai sudut.

"Ketika Syarif menembaki tentara Belanda di wilayah Cibadak, ternyata tentara Belanda sudah ada yang menyusup ke Kampung Cogreg. Pasukan itu menembaki ketiga pejuang itu dari arah selatan atau tepatnya berada di samping ketiga pejuang itu," kata Abdul.

Abdul melanjutan, Kopral Syarif pun gugur dalam pertempuran yang tidak imbang itu. Kedua rekannya pun berusaha menyelamatkan diri setelah mengetahui Kopral Syarif tewas tertembak. Lagi pula, selain kalah jumlah, keduanya pun kalah jumlah amunisi sehingga tak mungkin sanggup mengalahkan satu kompi  pasukan Belanda itu.

"Dari peristiwa itulah masyarakat akhirnya membangun sebuah tugu untuk mengenang perjuangan Kopral Syarif. Almarhum pun sempat dimakamkan di tempat pemakaman umum milik kampung. Namun mengingat perjuangannya, almarhum dipindahkan ke taman makan pahlawan Cibeber," kata Abdul.

Diakui Abdul, seiring dengan berjalannya waktu memang pengetahuan masyarakat terhadap tugu itu berkurang. Apalagi selama puluhan tahun tugu itu tak terawat dan dibiarkan begitu saja. Akibatnya, masyarakat saat ini hanya memahami tugu itu sebagai tanda saja. Bahkan anak-anak yang berusia kurang dari 20 tahun menganggapnya runtuhan tugu itu sebagai bongkahan batu biasa.

"Kami ingin warga khususnya di Desa Cimanggu dapat mengenang perjuangan para pahlawan kita. Tujuannya sendiri untuk menumbuhkan rasa nasionalisme pada warga maupun para pelajar," kata Abdul. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved