Kamis, 9 April 2026

Tarian dengan Lagu-lagu Daerah Pembuka Helaran Kemilau Nusantara

MULAI dari lagu daerah asal Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Barat Jakarta, Jawa Tengah,

Penulis: Dedy Herdiana | Editor: Januar Pribadi Hamel

MULAI dari lagu daerah asal Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Barat Jakarta, Jawa Tengah, hingga Papua mengalun setelah bunyi mengagetkan dari kembang api sebagai tanda dibukanya, Kemilau Nusantara ke-10 di Jalan Diponegoro depan Gedung Sate, Sabtu (12/10) malam. Lagu-lagu nusantara itu mengiringi para penari cantik dan tampan yang menbawakan tarian unsur daerahnya masing-masing karya Ega Robot yang berjudul "Kemilaunya Negeriku di Jawa Barat".

Suasana pun terasa meriah dan penuh semangat mengajak setiap orang yang menyaksikan untuk lebih mencintai seni budayanya. Meski semalam momen helaran seni budaya itu berbarengan dengan pertandingan sepak bola  Indonesia U19 melawan Korea Selatan U19, antusiasme warga Bandung yang menyaksikan tetap terlihat tinggi. Ribuan warga terlihat antusias menanti acara helaran seni budaya di pinggir Jalan Diponegoro, khususnya di dekat kawasan Gedung Sate dan Lapangan Gasibu.

Selepas tarian yang merangkum semua seni tradisional senusantara, helaran seni budaya pun dimulai dengan diawali penampilan dari Provinsi Nusa Tenggara Barat yang membawakan kesenian berjudul "Gendang Beleq", yakni sebuah kesenian musik orkestra dari Lombok, yang didominasi oleh alat musik gendang baleq atau gendang besar.

Helaran berikutnya pun tak kalah menarik, karena alunan kacapi dan suling yang sudah akrab pada telinga warga Bandung mulai terdengar. Itulah helaran yang menampilkan judul Dangiang Cahya Dilaya dari Kota Tasikamalaya. Lenggak-lenggok wanita cantik yang membawa payung geulis pun langsung membuat pemandangan lebih menarik. Meteka berupaya menunjukkan Kota Tasikmalaya sebagai kota perlintasan daerah dengan memunculkan potensi budayanya melalui keindahan gerak, kedinamisan gending dan keselarasan keterampilan buah tangan seperti kelom geulis, payung geulis, bordir dan mendong.

Tampilan pun kembali diisi dari luar Jawa Barat, yakni helaran tarian dari Sumatera Utara Tor-tor Tunggal Panaluan. Namun setelah itu kembali kesenian dari Jawa Barat meramaikan suasana dengan tampilnya seni Dukol Ampe dari Kabupaten Bekasi. Karena kesenian yang mengambil konsep pesta Hari Raya Panen dibawakan dengan mengolaborasikan antara seni dukol (beduk takol) dan seni atraksi toya (bambu) ampel. Bambu ampel sendiri biasa digunakan sebagai alat pikul padi dan jadi alat atau senjata para petani dari ancaman bahaya.

Helaran yang berlangsung hingga menjelang tengah malam itu semakin meriah dan ribuan warga pun tampak tetap setia, meski gerimis hujan sempat sedikit membasahi kawasan Gasibu dan Gedung Sate. Karena pada kesempatan masih banyak lagi kabupaten dan kota asal Jabar serta provinsi lain yang mementaskan seni khas daerahnya. Seperti Kabupaten Sumedang menampilkan Alam Nyarita yang menjadikan alam sebagai inspirasi para senimannya untuk mengungkapkan suara-suara alam yang divisualisasikan lewat Manusia Akar, Manusia Daun, Manusia Pohon. Dan Manusia Areuy dalam dimensi budaya Sunda. Lalu Sulawesi Selatan menampilkan Ritual Maccera Arajang dari Kabupaten Barru,

Kemudian Kabupaten Cirebon menampilkan Sekar Gendis yang menggambarkan kegembiraan masyarakat saat panen tebu. Serta  Kabupaten Bandung menampilkan seni Badawang Wayang Makalangan yakni wayang golek besar yang ditampilkan massal. Kota Cimahi pun menampilkan seni Tatakolan yakni seni permainan jaman dulu yang biasa membunyikan sesuatu apa yang ada di depannya dan menjadi yang tidak diperbolehkan oleh orang tua 'pamali' karena bisa mengundang jurig. Namun dikemas dengan alat-alat barang bekas, dengan kostum yang menarik. Selain itu Kalimantan Barat menampilkan Eksotika Budaya Dayak, serta dari sangat menarik pula kesenian lainnya seperti dari Aceh, Bali dan Papua.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar, Drs Nunung Sobari MM mengatakan peserta Kemilau Nusantara 2013 yang mengambil tema  "Pesona Seni Budaya Ciptakan Lingkungan Asri" itu diikuti oleh 24 kabupaten dan kota seprovinsi Jabar dan 19 Provinsi. Jumlah peserta kali ini menunjukan ada peningkatan dibanding tahun-tahun sebelumnya.

"Dulu itu provinsi yang ikut hanya 5 sampai 6 provinsi. Tapi sejak tiga tahun terakhir ini antusiasnya makin meningkat, tahun lalu saja mencapai 18 provinsi dan sekarang 19 provinsi," ujar Nunung saat ditemui wartawan di sela-sela berlangsungnya acara. "Peningkatan antusiasme provinsi di Indonesia itu saya kira karena event Kemilau Nusantara itu sangat strategis untuk mengenalkan seni budaya dan meningkatkan daya tarik pariwisata daerahnya masing-masing," tambah Nunung.

Pergelaran Kemilau Nusantara kali ini pun diakui Nunung sebagai yang pertama kalinya dilaksanakan malam hari. Hal itu kembali diakuinya sebagai langkah uji coba agar mendapatkan suasana baru.

"Selain itu kami juga ingin coba disesuaikan dengan aura pemain para seniman dalam berkesenian yang biasanya lebih mantap pada malam hari. Tapi yang pasti kalau malam hari tidak panas," ujar Nunung.

Sementara Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan mengatakan seni budaya daerah perlu dilestarikan. Karena tidak akan ada kebudayaan nasional tanpa adanya kebudayan daerah.

"Maka saya berharap Kemilau Nusantara ini bisa menjadi ruang bagi para seniman daerah dalam melestarikan seni budaya lokalnya secara lebih kreatif," katanya.

Harapan serupa juga dikatakan Dirjen Pemasaran Kemenparkerap, Esti Reko Astuti, bahwa sekarang ini seni budaya lokal dituntut untuk lebih kreatif dalam menampilkannya. Hal itu terbukti dengan kebaradaan Kemilau Nusantara yang sekarang sudah dilaksanakan untuk ke-10 kalinya.

"Sekarang ini Kemilau Nusantara sudah kami agendakan menjadi agenda budaya nasional dan itu sudah kami promosikan juga ke luar negeri," katanya.

Dalam acara Kemilau Nusantara 2013 itu, tidak hanya helaran tapi digelar pula pameran seni budaya dan potensi daerah sejak hari Kamis (10/10) hingga (12/10) mulai pukul 09.00 hingga 21.00 WIB di sekitar area Gedung Sate. Selain itu digelar pula Lomba Foto yang dilaksanakan sejak 15 September hingga 6 Oktober. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved