Citizen Reporter

Anjloknya IHSG dan Pembenahan Dalam Negeri

Penyebab dalamnya penurunan IHSG di pembuka minggu ini tidak hanya disebabkan faktor-faktor yang sudah beredar.

Oleh: Ivan Tanujaya
Relationship Manager PT Sinarmas Sekuritas Cimahi

BAGI sebagian pemodal beberapa hari terakhir ini mungkin bisa dibilang bukan waktu yang menyenangkan. Hal ini disebabkan munculnya faktor ekonomi yang cukup berdampak pada pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG).

Katakan saja mulai dari pencabutan sebagian subsidi BBM, rencana pencabutan stimulus Amerika oleh The Federal Reserve, inflasi, dan kenaikan BI Rate yang dinilai tidak cukup efektif untuk mengkatrol performa rupiah.

Pergerakan IHSG pasca libur panjang bisa dibilang cukup menarik, terutama pada Senin (19/8) karena pergerakan IHSG pada hari itu anjlok sampai 5,584 persen  ke level 4.313,52. Hal ini bisa dibilang bukan hal yang sering terjadi.

Penyebab dalamnya penurunan IHSG di pembuka minggu ini tidak hanya disebabkan faktor-faktor yang sudah beredar (seperti inflasi, The Fed, dan lain-lain), tapi juga terkait kinerja ekonomi Indonesia yang mengalami perlambatan laju GDP dan data current account yang dapat dikatakan kurang memuaskan.

Keputusan BI untuk tidak menaikkan BI Rate (setelah sebelumnya dinaikkan menjadi 6,50 persen) pun memiliki dampak short term di mana terjadi capital outflow. Hal ini disebabkan performa rupiah yang terdepresiasi sehingga berdampak pada kurang menariknya investasi Indonesia bagi pihak asing.

Kesimpulan yang bisa ditarik adalah major factor dari anjloknya IHSG pada Senin kemarin lebih disebabkan performa dalam negeri ditambah dengan isu-isu dari luar, seperti The Fed yang dapat dikatakan memiliki sumbangsih yang cukup berdampak.

Kondisi Indonesia ke depannya sangat bergantung dari konsep pemerintah. Apalagi pada 2014 akan terjadi pergantian kekuasaan yang sangat mungkin menjadi faktor penentu laju ekonomi negara dan juga IHSG di dalamnya.

Mengenai kondisi ekonomi ke depannya, tugas pemerintah bukan hanya sekedar menstabilkan kondisi ekonomi makro, tapi juga untuk menentukan arah tujuan dari ekonomi negara ini. Hal ini bukan hanya sekadar memberikan pegangan kepercayaan diri bagi para investor, tapi juga sebagai modal Indonesia untuk memiliki peran yang aktif dan berdampak di kancah ekonomi global, termasuk juga dalam menghadapi ASEAN Economic Community.

Kritik dari Managing Director Bank Dunia, Sri Mulyani Indrawati yang mengatakan bahwa selama ini kebijakan pemerintah cenderung bersifat reaktif dan kurang memiliki perencanaan jangka panjang, juga perlu ditanggapi secara serius. (*)

Editor: nip
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved