Warga Cipicung Tak Repot Kelola Sampah

Tergerak oleh keinginan untuk terbebas dari masalah sampah ini, muncul ide untuk membuat tempat pengelolaan sampah terpadu mandiri

Penulis: Kemal Setia Permana | Editor: Darajat Arianto
zoom-inlihat foto Warga Cipicung Tak Repot Kelola Sampah
Kemal Setia Permana
Seorang warga sedang membakar sampah di tempat pengelolaan sampah mandiri di RW 03 Kampung Cipicung Desa Manggahang Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, belum lama ini.
Oleh Kemal Setia Permana

MASALAH persampahan atau limbah rumah tangga di lingkungan sekitar kita memang menjadi ancaman menakutkan yang seakan tidak pernah ada habisnya. Betapapun pemerintah sudah seringkali menyosialisasikan tertib membuang sampah, tetap saja masih banyak anggota masyarakat yang membuang sampah sembarangan.

Banyak faktor yang membuat warga terpaksa membuang sampah tidak pada tempatnya. Di antaranya adalah kurangnya sarana tempat pembuangan sampah yang layak, tidak adanya jadwal rutin pengangkutan sampah dari petugas, atau bahkan mungkin tidak ada pengangkutan sama sekali sampah- sampah di lingkungan warga oleh petugas kebersihan yang juga dipicu berbagai kemungkinan.

Masalah seperti ini juga dihadapi warga RW 03 Kampung Cipicung, Desa Manggahang, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung. Bertahun-tahun lamanya warga setempat dirundung masalah dengan keberadaan sampah di kampung mereka yang sering "telantar" tak karuan.

Menurut Ketua RW 03 Kampung Cipicung, Supriyadi, sampah memang kerap menjadi masalah yang membingungkan dan juga membawa bencana. Membingungkan karena tidak jarang sampah buangan warga di sana menumpuk di tempat pembuangan sampah sementara di sekitar wilayah itu. Di sisi lain, jadwal pengangkutan sampah hanya satu minggu sekali, itu pun terkadang tidak tepat waktu.

"Walhasil, sampah sering menumpuk tak karuan. Sudah gitu, sering diacak-acak pula oleh pemulung atau kucing dan anjing. Memusingkan memang," kata Supriyadi kepada Tribun di kantor RW 03 Desa Cipicung, belum lama ini.

Tergerak oleh keinginan untuk terbebas dari masalah sampah ini, muncul ide untuk membuat tempat pengelolaan sampah terpadu mandiri yang murah, tapi lokasinya tidak harus keluar dari kampung mereka.

Singkat cerita, awal Oktober lalu, Supriyadi meminta kesediaan salah seorang warga untuk menyediakan lahan yang akan dijadikan tempat pengelolaan sampah mandiri terpadu. "Beruntung, ada warga yang mau menyumbangkan tanahnya untuk dijadikan tempat pengelolaan sampah mandiri itu, yaitu di halaman rumah Pak Caryana, Ketua RT 08," ujarnya.

Setelah mendapatkan tempat, warga bergotong royong membangun tempat pengelolaan sampah terpadu itu. Bentuk tempat pengelolaan sampah ini sederhana, hanya terbuat dari bahan batu bata dan semen yang dibentuk menyerupai tungku pembakaran seluas 1x1 meter dengan corongnya yang terbuat dari drum bekas yang ditumpuk ke atas berjumlah tiga tumpukan dengan total ketinggian mencapai kurang lebih 5 meter.

"Sederhana memang, tapi sangat efektif," katanya.

Sebagai alat untuk mendorong pembakaran, karena sampah yang dimasukkan ke alat itu dimusnahkan dengan cara dibakar, disediakan alat peniup angin (blower) untuk menjaga  agar api terus menyala. Alat tersebut juga dibuat oleh warga setempat sehingga bisa menghemat pengeluaran. "Kalau beli di toko, blower itu harganya sekitar Rp 3 jutaan, tapi karena membeli dari warga yang membuat sendiri, harganya hanya Rp 1 juta," kata Supriyadi.

Kini, satu bulan sudah alat pengelolaan sampah terpadu mandiri milik warga RW 03 itu berjalan. Dengan mempekerjakan empat warga setempat yang bertugas untuk mengangkut sampah warga dan sebagian lagi bertugas untuk membakar sampah dengan sistem bergiliran, warga setempat sudah bisa merasakan imbasnya secara perlahan tapi pasti.

Bahkan warga mengaku sudah tidak pernah memiliki masalah lagi dengan sampah. Sekarang warga tidak perlu menunggu petugas kebersihan mendatangi kampung mereka untuk mengambil sampah, tetapi tinggal memberikan sampah mereka kepada warga yang menjemput sampah itu setiap hari.

"Iurannya relatif murah dan tidak perlu capek juga. Selain itu, abu pembakarannya bisa dimanfaatkan menjadi nilai ekonomis, yaitu untuk pupuk tanaman, dicampur dengan pupuk kandang. Saya senang warga sini juga bahagia," ujar Supriyadi.

Supriyadi berharap, metode pengelolaan sampah yang diterapkan di kampungnya bisa ditiru atau dipakai di tempat lain. Terlebih, belakangan, khususnya di Baleendah, sempat muncul permasalahan sampah yang sering menumpuk di beberapa tempat dan tidak tertangani secara maksimal oleh dinas terkait.

"Nah, kasus-kasus seperti ini mudah-mudahan bisa tertangani maksimal jika warga bisa menerapkan metode pengelolaan sampah seperti yang kami lakukan," katanya. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved