Mutiara Deciana SE, Tetap Berinovasi Pertahankan Tradisi
MEMPERTAHANKAN seni tradisional hingga era global sekarang ini sungguh bukanlah pekerjaan yang mudah. Tantangan dan persaingan semakin meningkat
Penulis: Dedy Herdiana | Editor: Januar Pribadi Hamel
Tapi tidak demikian dengan perempuan yang satu ini. Putri bungsu dari pasangan almarhum Udjo Ngalagena dan Uum Sumiati yang bernama Mutiara Deciana ini tetap berjalan dan terus berupaya mengembangkan perusahaan warisan keluarganya menembus jaman yang penuh persaingan, meski pendidikan formal yang menjadi bekalnya hanyalah lulusan sarjana akuntansi dari STIE Tridharma, Bandung. Semangat meneruskan cita-cita orangtua untuk melestarikan budaya inilah yang menjadi bekal utamanya untuk dijalani bersama sembilan saudaranya.
"Saya itu hanya meneruskan usaha ayah (Saung Angklung Udjo, Red) agar tetap berkembang dan bermanfaat bagi banyak orang. Kami sadar bahwa usaha kami juga merupakan upaya melestarikan budaya, sehingga niat ayah kami yang mulia ini harus kami support dan kami teruskan. Memang tidak mudah, karena di era modern ini selain sistem bisnis, perkembangan seni terus berkembang, sehingga selain tetap melestarikan seni tradisionalnya kami juga harus berinovasi agar bisa dicintai masyarakat modern," tutur Mutiara Deciana yang sekarang ini menjabat sebagai Direktur Operasional, saat ditemui Tribun di Saung Angklung Udjo (SAU), Kamis (13/9).
Jabatan yang membutuhkan tanggung jawab besar bagi keberlangsungan SAU itu tidak diraihnya dengan mudah walaupun itu perusahaan keluarganya sendiri. Sehingga pengalaman yang djalaninya sejak awal ikut membantu di perusahaan menjadi pengalaman berharga dalam ikut mewujudkan dan mempertahankan cita-cita orangtuanya. Mulai dari mendapat tanggung jawab di bidang tiketing, ikut dalam pertunjukan, dan mengatur jalannya pertunjukan sudah dijalaninya sejak duduk di bangku SMA. Bahkan saat masih berusia 13 tahun, dia sudah mendapat tanggung jawab berat, yakni memimpin pertunjukan konser angklung dengan menjadi dirigen di hadapan Ibu Negara , Ibu Tien Soeharto bersama tamu kenegaraannya di Bogor.
"Kalau belajar angklung memang sudah diarahkan oleh ayah saya sejak usia 4 tahun, bahkan saya juga diajari menyanyi, sehingga sampai dewasa saya mencintai angklung. Saya juga sempat menjadi MC dan dirigen di acara-acara konser angklung. Dan yang paling berkesan itu saat saya menjadi dirigen di hadapan Ibu Negara dalam acara Ladies Program di Bogor, saat itu saya baru berusia 13 tahun," papar Muti yang tahun 2011 lalu juga sempat menjadi pemeran Dewi Sartika dalam film dokumenter 'Dewi Sartika' yang diproduksi TVRI Pusat.
Setelah menjalani gemblengan pengalaman yang penuh nilai itu baru dua tahun kebelakang, jabatan Direktur Operasional itu dipercayakan oleh saudara-saudaranya berada di pundaknya. Sejak itu pula, Muti mulai banyak belajar tentang manajemen terutama tentang menejerial yang secara islami untuk melahirkan kebarokahan bagi semua. Pembelajarannya itu dilakukan sambil berjalan dengan banyak bertanya kepada konsultan manajemennya yang selama ini setia bersama SAU. Tantangan yang semakin berat itu pun tidak menjadikannya gentar, justru menjadikannya bangga karena tanggung jawabnya itu menjadi banyak manfaat bagi banyak orang.
"Saya jalani semua tanggung jawab yang besar ini dengan iklas dan dengan perasaan senang saja. Dan Alhamdulillah, perkembagannya sudah bisa dirasakan oleh banyak orang," ujarnya.
Dulu pegawai di SAU, kata Muti hanya beberapa puluh orang saja, karena yang disertakan hanya saudara-saudara terdekat saja. Kemudian berkembang dengan melibatkan warga sekitar hingga karyawan, seniman, dan perajin yang bekerja di SAU semakin banyak. Untuk perajin sekarang ini ada 89 Kepala Keluarga, pemain angklung sebanyak 249 orang, dan karyawan sekitar 100-an orang.
"Selain itu kami juga melakukan kerjasama dengan berbagai pihak, seperti kerjasama yang dilakukan bersama 5 kelompok petani bambu, lalu ada 50 vendor pemasok kerajinan tradisional selain angklung untuk mengisi souvenir shop di SAU. Kami juga kerap kerjasama dengan STSI untuk menghadirkan penari dan pemusik lainnya. Jadi lapangan usaha kami ini menjadi lebih banyak membuka usaha bagi banyak orang," kata Muti yang sekarang ini menjadi seorang calon yang akan mendapatkan penghargaan Upakarti.
Selain perkembangan sumber daya manusianya, SAU sekarang ini pun makin meningkat dalam frekuensi pertunjukannya. Dikatakan Muti dulu pertunjukan angklung di SAU hanya dua kali dalam sehari, sekarang bisa 3 sampai empat kali. Ditambah dengan adanya pertunjukan ke luar atas undangan yang bisa 4 sampai 5 tempat dalam sebulan. Berdasarkan catatan pertunjukannya selama Tahun 2010 mencapai 1.162 kali pertunjukan dan tahun 2011 menjadi 1.330 pertunjukan. (*)