Dari Masjid ke Masjid

Masjid Buah Kerja Keras Para Pedagang Dayeuhkolot

SEJUMLAH pria berdiri menghadap kiblat pada Rabu (1/8) siang. Di bagian belakang sisi kanan yang dibatasi pembatas kain, sepuluh perempuan yang

Masjid Buah Kerja Keras Para Pedagang Dayeuhkolot
Agung Yulianto
UNIK - Masjid Ash-Shofia Dayeuhkolot ini tergolong unik, karena lantai bawah masjid digunakan para pedagang untuk berjualan.
* Masjid Ash Shofia

Oleh Agung Yulianto Wibowo

SEJUMLAH pria berdiri menghadap kiblat pada Rabu (1/8) siang. Di bagian belakang sisi kanan yang dibatasi pembatas kain, sekitar sepuluh perempuan yang mengenakan mukena melakukan hal yang sama. Mereka meluangkan waktu beberapa menit untuk melaksanakan salat Zuhur pada bulan puasa ini.

Jemaah ini melakukan ibadah di Masjid Ash Shofia, di Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. Masjid yang baru didirikan pada 2006 dan diresmikan Wapres Jusuf Kalla pada 2008 ini memiliki dua tingkat dengan kapasitas sekitar 2.500 orang.

Masjid Ash Shofia juga merupakan lambang perjuangan dari mimpi masyarakat sekitar, yang sejak lama mengidamkan masjid besar di daerah mereka. Apalagi Dayeuhkolot memiliki nilai historis sebagai cikal bakal berdirinya Bandung.

Edi Sutedi dari Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Ash Shofia mengatakan, masyarakat begitu mengidam-idamkan memiliki masjid. Apalagi semua kecamatan di Kabupaten Bandung sudah memiliki masjid besar. Bahkan di Dayeuhkolot, sudah ada nama Kampung Kaum, yang letaknya dekat dengan Masjid Ash Shofia.

Kaum memiliki definisi besar. Artinya, masjid besar atau masjid raya disebut orang dahulu sebagai kaum. Perjuangan masyarakat Dayeuhkolot sendiri sudah sejak lama, dan mulai gencar pada 2003. Terutama masyarakat pedagang di Pasar Dayeuhkolot.

"Pembangunan Masjid Ash Shofia murni dari para pedagang, tidak ada bantuan dari mana pun. Ada 323 pedagang yang mengumpulkan uang sebanyak 25 persen dari total nilai biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan masjid," kata Edi ketika ditemui Tribun, Rabu (1/8).

Total biaya pembangunan mencapai Rp 14 miliar. Dana itu diperoleh dari pinjaman bank, yang kemudian dibayar secara bertahap oleh 323 pedagang tadi. Pembayaran dilakukan selama dua sampai lima tahun. Masjid itu berdiri di atas tanah seluas 3.900 meter persegi milik Pemkab Bandung.

Karena didirikan para pedagang, bentuk masjid ini begitu berbeda. Bahkan, merupakan satu-satunya masjid di Jawa Barat yang bangunannya menyatu dengan ruangan-ruangan yang digunakan untuk berdagang. Ruangan itu terletak di lantai dasar masjid bercat kuning tersebut.

"Ada 323 ruangan, yang digunakan untuk berdagang para pedagang yang dulu mendirikan masjid. Ukurannya sama semua. Tapi sekarang sudah ada yang dikontrakkan dan hanya sekitar 30 persen pedagang yang asli masyarakat Dayeuhkolot. Mereka berdagang busana, sepatu dan sandal, serta alat kecantikan," kata pria berusia 51 tahun ini.

Ruangan yang digunakan untuk berdagang itu diberi nama Dayeuhkolot Raharja Plaza, yang memiliki arti simbol Bandung. Selain tempat ibadah dan berdagang, Masjid Ash Shofia juga berfungsi sebagai tempat pendidikan anak-anak. Paling tidak ada sekitar 30 anak yang bersekolah tingkat taman kanak- kanak di masjid tersebut.

Nama Ash Shofia diambil dari nama ibu kandung Uu Rukmana, mantan ketua Partai Golkar Jabar. Nama itu diartikan suci atau bersih, dan bentuk penghargaan kepada Shofia karena berhasil membujuk anaknya untuk mendukung pembangunan masjid besar di Dayeuhkolot. (*)

Penulis: Agung Yulianto Wibowo
Editor: Darajat Arianto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved