Tangkap Impun Hanya Tanggal 24 dan 25 Bulan Islam
BAGI mereka yang bukan warga pantai atau wisatawan, orang menangkap ikan merupakan pemandangan unik.
Tayang:
Penulis: Dedy Herdiana | Editor: Giri
BAGI mereka yang bukan warga pantai atau wisatawan, pemandangan ratusan orang berada di bibir pantai sambil membawa sirip yaitu alat tangkap ikan dengan celah jaring yang kecil, akan menjadi suatu pemandangan yang unik. Biasanya pemandangan pantai hanya dihiasi oleh garis ombak yang bergulung-gulung atau sejumlah aktivitas nelayan lengkap dengan perahunya.
Namun ini hanya ratusan orang, laki-laki dan perempuan, tua dan muda semua berada di bibir pantai seperti sedang berbaris akan menyambut kedatangan sesuatu dari laut sambil membawa alat tangkap ikat dengan jala kecil atau hanya berbekal kain.
Pemandangan itu terlihat di Pantai Citepus, yang berdekatan dengan Pantai Pelabuhan Ratu di Kabupaten Sukabumi, Kamis (14/6) sore.
Mereka sesekali berlari ke pesisir menjauh dari bibir pantai, lalu menyimpan hasil tangkapannya di suatu tempat di pesisi itu. Rupanya mereka sedang menangkap ikan kecil seperti ikan teri tapi ukurannya lebih kecil lagi yang datang dari laut terbawa arus gelombang ke pantai.
Mereka menamakan 'impun’ pada ikan kecil itu. Mereka pun menamakan momen itu dengan sebutan ‘ngala impun' atau ‘panen impun’.
Mereka sudah berada di bibir pantai selepas azan azhar dan hingga sore itu masih terus bolak-balik menyimpan hasil tangkapannya di pesisir dan kembali lagi ke bibir pantai. Mereka rela berbasah-basah badan dan bajunnya untuk menangkap impun.
Bahkan di antara mereka itu bukan hanya para keluarga nelayan, para kepala keluarga yang kesehariannya sebagai pedagang atau pemilik warung makanan di pinggir pantai pun terbius untuk menangkap impun yang gratis, anugerah Sang Pencipta.
“Ini soalnya hanya datang sebulan sekali. Itupun kalau memang ada. Biasanya memang setiap bulan sekali dan munculnya itu hanya pada tiap tanggal 24 dan 25. Tapi ada juga yang bisa kemunculan impun lama sampai seminggu dan terkadang ada juga bulan-bulan yang tidak memunculkan impun. Yang pasti kalau muncul itu hampir selalu tanggal 24 dan 25 bulan Islam,” kata Aim (35), seorang warga Citepus, Kabupaen Sukabumi, saat ditemui Tribun di Pantai Citepus, Kamis (14/6) yang kebetulan saat itu tanggal 24 Rajab 1433.
Ketika itu Aim sudah mengumpulkan ikan impunnya sekitar dua kantung plastik ukuran satu liter. Setiap kilogramnya ikan impun laku dijual sekitar Rp 50 ribu dan setiap plastik ukuran satu liter yang dimiliki Aim bisa mencapai dua kilogram bila ikannya ditimbang.
Penangkapan ikan impun yang bisa dilakukan sebulan sekali ini dapat menjadi penghasilan tambahan untuk kebutuhan hidup sehari-harinya. “Ya lumayan, kalau lagi beruntung sehari bisa dijual dan sehari bisa dapat uang minimal Rp 50 ribu sampai Rp 200 ribu. Kalau tidak terjual ini bisa dimasak sendiri karena ikan impun bisa dibuat pindang atau digoreng campur terigu menjadi gorengan,” tuturnya.
Kemunculan ikan impun itu, dikatakan Aim, karena adanya ikan-ikan dari sungai yang terbawa ke laut, atau telur-telur ikan yang hidup di sungai terbawa ke laut dan saat telurnya menetas terbawa ombak ke pantai. “Ini mah ikan impun, bukan teri. Impun yang telurnya dari wahangan (muara sungai) terbawa ke laut,” ujarnya.
Penangkap ikan impun lainnya, Uka (47) menambahkan pada tahun-tahun lalu kemunculan impun bisa sampai dua minggu. Namun sekarang-sekarang ini paling lama bisa sampai seminggu. Tapi yang paling banyak itu biasanya bertepatan dengan tanggal 25 bulan Islam.
“Mungkin ini juga ada hubungannya dengan musim pasang surutnya air laut dan tergantung dari banyaknya ikan yang terbawa dari sungai ke laut,” katanya.
Terlepas dari itu, peristiwa itu membuat suasana pantai ramai dan menjadikan pemandangan yang unik. Selain itu para penangkap ikan impun juga akan merasakan kebahagaian karena perekonomian keluarganya terbantu dan kebutuhan gizi makanan pun akan terpenuhi.(dedy herdiana)
KOMENTAR