Rabu, 8 April 2026

SEJARAH TERLUPAKAN

Marhaen yang Menginspirasi Bung Karno, Makin Terlupakan

Marhaen adalah seorang petani kecil yang menginspirasi presiden pertama RI, Soekarno. Soekarno mendengungkan nama Marhaen dalam pidato

Penulis: Tarsisius Sutomonaio | Editor: Darajat Arianto
Oleh Tarsisius Sutomonaio

MARHAEN yang terlupakan. Mungkin itu kata-kata yang cukup pas melukiskan makam Marhaen di Kampung Cipagalo, RT 04/03, Kelurahan Mengger, Bandung Kidul, Kota Bandung.

Marhaen adalah seorang petani kecil yang menginspirasi presiden pertama RI, Soekarno. Soekarno mendengungkan nama Marhaen dalam pidato pembelaan Indonesia Menggugat, Agustus 1930, yang mengecam penjajahan kolonial karena membuat para pemilik tanah yang menggarap lahannya sendiri dan peralatan pribadi tetap hidup miskin.

Mungkin masih bisa kita kenang, bagaimana dialog antara Bung Karno dengan Marhaen. Ketika itu, Bung Karno masih menuntut ilmu di Sekolah Teknik Tinggi Bandung, sekarang Institut Teknologi Bandung (ITB), berjalan-jalan ke daerah Bandung sebelah selatan dan bertemu dengan seorang petani bernama Marhaen. Dalam dialognya yang berbahasa Sunda itu kurang lebih artinya seperti ini:

"Bapak, ini sawah milik siapa?
"Milik saya, anugerah Tuhan.
"Cangkul ini milik siapa?"
"Saya."
"Kalau peralatan-peralatan itu semua milik siapa?"
"Punya saya."
"Sawah ini kau beli?
"Tidak, tapi warisan turun-temurun, sebagai anugerah Tuhan.
"Digarap oleh siapa?
"Oleh saya.
"Hasilnya untuk siapa?
"Dinikmati oleh saya sekeluarga
"Apakah itu cukup untuk keperluan kamu?"
"Hasilnya pas-pasan untuk mencukupi hidup kami."
"Apakah kamu juga bekerja menggarap tanah orang?"
"Tidak. Saya harus bekerja keras. Semua tenaga saya untuk lahan saya sendiri."
"Tapi kawan, hidup kamu dalam kemiskinan?"
"Benar, saya hidup dalam kemiskinan."

Percakapan inilah yang menjadi dasar inspirasi Bung Karno dalam menciptakan karya utamanya, Marhaenisme. Marhaen dalam pikiran Bung Karno adalah pemilik jiwa nasionalisme dan demokrasi, manusia merdeka dan mandiri. Tidak menggantungkan kepada siapa pun dalam mencukupi kebutuhan hidup dirinya dan keluarganya.

Namun puluhan tahun kemudian, tak banyak yang peduli dengan Marhaen, keluarga Marhaen, bahkan makam Marhaen. Bangunan makam Marhaen berukuran sekitar 3x4 meter persegi tersembunyi di daerah pinggir permukiman masyarakat, berdiri di antara beberapa rumah warga dan dinding pagar sebuah kompleks perumahan elite di Batu Nunggal. Saat Tribun mengunjungi makan itu, canggah (keturunan keempat) Marhaen, Sinta dan Imel sedang membersihkan makam.

Cukup banyak kotoran yang harus dikeluarkan dari bangunan itu. Udara pun segera bercampur debu. "Jarang dibersihkan," ujar Sinta. Selain debu, gadis yang baru menyelesaikan ujian nasional (UN) SMP itu menyapu daun-daun kering juga kotoran unggas. Beruntung, makam itu dikunci memakai gembok.

Cucu Marhaen yang masih hidup, Ayid (62), mengaku keluarga membersihkan makam itu 2-3 kali dalam sepekan. Ia merupakan putri dari Ki Udung. Ayahnya sebagai anak tunggal Marhaen. "Memang sengaja menutup pintu agar binatang serta ayam dan entok tidak mudah masuk ke makam," ujarnya kepada Tribun di rumahnya, nomor 28, RT 02/03, Kampung Cipagalo, Jumat (1/6).

Kotoran bisa makin banyak menumpuk di dalammnya. Pasalnya, bangunan itu berada dekat dua kandang ayam. Area itu pun tempat favorit sejumlah unggas, ayam dan bebek, mengais makanan. Belum lagi, guguran dedaunan pohon nangka yang jatuh ke area sekitar makan atau bahkan terbang masuk ke dalam makam. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved