KOMPETISI ROBOT INTERNASIONAL
Robot Jadi Juara Tanpa Kehadiran si Pencipta
TIM robotika Universitas Komputer Indonesia meraih enam medali, di ajang Trinity College Fire Fighting and RoboWaiter Contest di Harford, AS
Penulis: Siti Fatimah | Editor: Darajat Arianto
TIM robotika Universitas Komputer Indonesia (Unikom) Bandung meraih enam medali, yakni lima medali emas dan satu medali perak, di ajang Trinity College Fire Fighting and RoboWaiter Contest di Kota Harford, Amerika Serikat, pada 31 Maret-1 April, dan Robogames 2012 di San Mateo, California, AS, 20-22 April. Di balik kemenangan kali ini banyak cerita menarik, terutama saat salah seorang pencipta robot tidak dapat ikut ke Amerika karena "nama", padahal robot karyanya berhasil menjadi juara di ajang robot internasional tersebut.
Muhammad Yazid Al Qahar, mahasiswa Teknik Informatika Unikom tingkat II, berhasil membuat robot yang diberi nama DU116 SGR-V12. Robot karyanya diikutkan dalam kejuaraan robot internasional di ajang Robogames 2012 di Kota San Mateo.
Ia optimistis robot karyanya bisa bersaing dengan peserta lain dari berbagai negera. Persiapan untuk kejuaraan sudah dilakukan secara matang, tapi harapan untuk bisa terbang ke Amerika memperagakan dan mempresentasikan karyanya pupus seketika. Visa Yazid ditolak hanya karena namanya.
"Visa sudah diajukan, tapi tak kunjung keluar. Akhirnya pasrah ketika visa tidak keluar dan tim lainnya harus berangkat ke Amerika. Mungkin ini sudah jalan takdir dari Yang Di Atas, tanpa menyalahkan nama yang sudah dikasih oleh orang tua saya," kata Yazid saat ditemui di sela-sela Syukuran Kemenangan Tim Robot Unikom di Kampus Unikom, Jalan Dipati Ukur Bandung, Rabu (16/5).
Meski tidak bisa hadir untuk memperagakan robot karyanya, ia sangat senang ketika tahu robot karyanya berhasil menjadi juara 1 kategori Shooting Gallery pada Robogames 2012.
Tidak sia-sia selama delapan bulan ia membuat robot tersebut. Dan yang membuatnya semakin bangga karena robot karyanya bisa diperagakan meski tanpa kehadirannya di ajang tersebut. Robot hasil karyanya adalah jenis shooting robot. Cara kerjanya, robot diprogram bisa menembak target yang sudah ditentukan. Kendala yang sulit karena, meski sudah diprogram di tanah air, ia tidak bisa mengetahui target apa yang akan menjadi sasaran tembak robotnya karena operatornya baru.
Mengenai konsepnya, Yazid mengatakan, robot tembak ini merupakan antirudal dalam sistem pertahanan negara. Maksud penciptaan robot ini, ketika ada rudal yang mau masuk dan menembak, antirudal ini akan menembak duluan sebelum rudal musuh sampai.
Robot ini memang hanyalah prototipe. Namun dengan adanya konsep ini ke depannya diharapkan bisa diciptakan sebuah alat pertahanan yang sesungguhnya.
Keberhasilannya tentu saja juga berkat anggota tim lainnya. Beruntung, salah seorang anggota tim robotika Unikom yang bisa berangkat ke Amerika bisa mengoperasikan robot karyanya tersebut.
"Teman saya butuh satu minggu ditraining untuk mengoperasikan robot saya. Alhamdulillah bisa dan robot saya bisa juara, senang. Ternyata ada banyak hikmah yang saya dapat dari kegagalan saya berangkat ke Amerika," katanya.
Ada pengalaman menarik lainnya, yakni saat Asrul Rizal, mahasiswa Teknik Komputer tingkat III, yang juga ikut tim robotika tidak bisa ikut ke Amerika. Ia mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan ke Bandung dari rumah orang tuanya di Gunung Halu. Dua minggu sebelum keberangkatan, ia ingin pamit kepada kedua orangtuanya. Namun dalam perjalanan kembali ke Bandung, ia mengalami kecelakaan dan kakinya terluka yang menyebabkan ia gagal ke Amerika untuk memperagakan dan mempresentasikan robot karyanya yang diberi nama DU112 WCR-V12. Robotnya ini jenis robot berjalan yang bertanding di kategori Walker Challenge.
"Kekecewaan saya tidak bisa ikut di kejuaraan Robogames terobati. Robot saya bisa melewati rintangan dan berhasil menjadi juara di kategori ini," ujarnya.
Tidak jadi berangkatnya kedua mahasiswa dari tim robotika Unikom ini sempat membuat panik saat pesawat transit di Hong Kong. Mereka sempat tertahan karena robot-robot bawaan mereka tertahan dan tim diminta untuk menerangkan robot-robot tersebut.
Robot harus tertahan di bandara Hong Kong sementara pencipta robot yang paham tentang seluk- beluk robot tersebut tidak ada. "Kami tertahan sampai lima menit menjelang gate ditutup di bandara. Pastinya kesulitan karena harus menerangkan seluk-beluk robot. Penciptanya kan tidak ikut," kata Ketua Divisi Robotika Unikom, Yusrilla Kerlooza, kemarin.
Semua kendala tersebut terbayarkan, tim robotika Unikom berhasil membawa pulang enam medali ke tanah air. Jumlah medali ini lebih banyak dari tahun sebelumnya di kejuaraan yang sama. Tujuh robot dipertandingkan pada dua pertandingan tersebut. Tiga buah robot ikut pertandingan di Trinity College dan empat robot di 2012 Robogames.
Menurut Rektor Unikom Eddy Soeryanto Seogoto, tim yang berangkat ke Amerika dibagi menjadi dua. Tim pertama yang berangkat mengikuti pertandingan Trinity College terdiri atas Dr Yusrila Kerlooza selaku ketua tim, Rodi Hartono ST selaku dosen pembina, Didit Andri Jatmiko, Sendy Tia Prayoga, dan Anton Ade Purnama selaku mahasiswa. Dan tiga orang yang mengikuti 2012 Robogames, San Mateo, California, terdiri atas Dr Yusrila Kerlooza selaku ketua tim, Taufiq Nuzwir Nizar, MKom selaku dosen pembina, dan Didit andri Jatmiko selaku mahasiswa.
"Prestasi tim robot Unikom tahun ini kembali membanggakan Indonesia di ajang internasional," kata Eddy. (*)