Jumat, 12 Juni 2026

INOVASI TEKNOLOGI

Katup Pembuang Udara Tekan Water Meter PDAM

Pengguna air PDAM itu dilihat dari penggunaan yang ditunjukkan dari pencatatan water meter ini. Semakin banyak angka yang ditunjukkan di water meter

Tayang:
Penulis: Siti Fatimah | Editor: Darajat Arianto
Oleh Siti Fatimah

KONDISI alam yang berbatu di daerah Pacitan, membuat warga memilih mendapatkan air dari aliran PDAM. Namun, warga mengeluh karena setiap membuka kran air PDAM, seperti ada suara udara yang keluar. Bukan suara itu yang dikeluhkan, namun akibat suara seperti udara ini membuat jarum pada water meter bergerak. Otomatis pergerakan jarum ini menambah jumlah water meter yang artinya akan ada penambahan perhitungan biaya.

Inilah yang membuat dua pelajar SMK Negeri 1 Nawanga, Pacitan, Jawa Timur, Deri Ardiansyah (18) dan Misranto (18) tertarik mengetahui seputar air PDAM yang mengalir ke rumah-rumah warga.

"Pengguna air PDAM itu dilihat dari penggunaan yang ditunjukkan dari pencatatan water meter ini. Semakin banyak angka yang ditunjukkan di water meter, akan banyak juga biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar air," kata Misranto, ditemui pada acara Lomba Karya Ilmiah untuk Siswa Tingkat Nasional Tahun 2012 dengan tema "Inovasi Teknologi Pengendalian Sumber Daya Air untuk Menghadapi Dampak Perubahan" di Kantor Pusat Litbang Sumber Daya Air di Jalan Ir H Juanda, Selasa (1/5).

Ia dan Deri pun lalu mencari tahu apa benar udara yang dikeluarkan tersebut bisa menambah jumlah water meter. Selain memperhatikan keran air dan water meter di rumah sendiri, mereka juga mengambil sampel 20 pelanggan PDAM di Desa Arjosari, Pacitan. Pengamatan dilakukan sejak bulan Desember 2011. Dari hasil pengamatan, mereka melihat memang ada udara yang keluar setiap membuka keran air PDAM. Dan udara ini memberatkan water meter yang berimbas pada penambahan water meter.

Mereka mencoba membuat alat yang disebut Katup Pembuang Udara Otomatis. Mereka mencari ide alat seperti apa yang bisa dibuat menjadi katup. Alat ini harus memiliki massa (berat) yang lebih ringan atau lebih kecil daripada massa air.

Akhirnya dipilihlah kayu pohon randu (kapuk). Kayu randu ini dinilai sangat ringan dan massa kayu juga lebih kecil dari air. Selain kayu, mereka memanfaatkan selang ringan tipis berwarna putih bening dan gabus.

"Kami sengaja memilih alat sederhana ini agar bisa dimanfaatkan langsung dan pastinya murah," kata siswa kelas dua jurusan otomotif ini.

Bahan-bahan ini kemudian dirangkai menjadi seperti bentuk silinder dengan ukuran 2-3 ruas jari. Kayu randu juga dibentuk seperti silinder dengan diameter kurang lebih setengah sentimeter. Ada dua kayu randu yang dibentuk seperti ini. Dan gabus juga dibentuk yang sama, namun jumlahnya hanya satu buah.

Gabus diletakkan di tengah selang, dan dua kayu randu diletakkan di setiap ujung selang. Setelah jadi, mereka langsung mencobanya dan berhasil. Alat sederhana ini diletakkan antara keran water meter. Ternyata alat ini mampu menekan udara yang keluar.

"Kami coba di rumah dan di 20 pelanggan yang menjadi sampel pengamatan kami, dan bisa menekan udara dan tidak mengubah  watermeter," ujarnya.

Usaha mereka selama tiga bulan untuk pengamatan dan uji coba tidak banyak mengeluarkan biaya. Mereka hanya banyak menghabiskan waktu untuk pengamatan serta mengetahui bagaimana agar udara tetap bisa memperlancar air keluar namun tidak menambah berat water meter. Karya mereka disambut baik oleh 20 pelanggan tersebut karena bisa menghemat sekian rupiah.

Menurut Deri, ia belum meneliti sejauh itu karena perlu kecermatan untuk menghitung jumlah udara yang keluar dengan jumlah watermeter akibat dari udara tersebut serta mengalkulasinya selama satu bulan.

"Mungkin tekanan udara yang dikeluarkan itu kecil, tapi bila dikalkulasi sebulan pasti menambah biaya yang dikeluarkan dari setiap pelanggan. Kota kami dikenal sebagai kota gua, karena berbatu. Dan air tanah sulit karena setiap menggali, terbentur batu. Karenanya kami hampir rata-rata menggunakan air PDAM. Dengan adanya alat ini diharapkan bisa bermanfaat, itu saja. Alatnya mudah, murah, semua bisa pakai," kata Deri.

Ia juga menambahkan, hasil karyanya ini juga sudah diketahui oleh PDAM. Pihak PDAM hanya berkomentar untuk melanjutkan hasil temuan. Seusai presentasi di hadapan juri, mereka hanya diminta untuk memperbaiki karya mereka.

"Juri menyarankan untuk memperbaiki alat ini, karena memang alat ini dari kayu yang akan aus atau rusak kalau terus menerusa terkena air. Jadi harus cari bahan lain yang ringan, aman dan tidak mudah rusak karena tekanan air atau udara," kata keduanya yang mengaku bangga bisa ikut ajang nasional ini meski pesaing lainnya dinilai berat. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
2 - 0
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
2 - 1
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved