Selasa, 26 Mei 2026

Lepas dari Militer, Ketakutan Wartawan Berpindah ke Pemilik Modal

JAKARTA, TRIBUN - Dulu wartawan dibuat takut oleh kelaliman militer. Namun, kini seiring dengan perkembangan dunia media yang pesat, justru ketakutan itu berpindah pada pemilik modal dalam media. Hal itu disampaikan oleh sosiolog dari Universitas Indonesi

Tayang:
Editor: Deni Denaswara

JAKARTA, TRIBUN - Dulu wartawan dibuat takut oleh kelaliman militer. Namun, kini seiring dengan perkembangan dunia media yang pesat, justru ketakutan itu berpindah pada pemilik modal dalam media. Hal itu disampaikan oleh sosiolog dari Universitas Indonesia, Tamrin A Tomagola, dalam diskusi "Pers Kita Hari Ini" di Polemik Sindo Radio, Jakarta, Sabtu (11/2/2012).

"Sekarang teknologi dan modal memegang peran di media. Pemilik modal jauh lebih besar pengaruhnya untuk berkompetisi dengan media lain. Serba cepat, tapi tidak memperhatikan apa yang seharusnya dilakukan pers, yaitu untuk kepentingan publik, bukan sekadar cepat," ujar Tamrin.

Menurutnya, kekuatan pemilik modal yang besar juga memengaruhi pemberitaan yang ada. Wartawan, kata dia, menjadi terpenjara dalam aturan pemilik modal sehingga harus menyesuaikan informasi yang didapat sesuai keinginan pemilik modal. Menurutnya, itu yang terlihat pada sebagian media nasional saat ini.

"Kerja wartawan sangat cepat, dikejar pemred-nya deadline. Tapi, begitu isinya membahayakan modal korporasi, maka tidak akan dimuat," tuturnya.

Apalagi, jika si pemilik modal ikut masuk ke dalam ruang redaksi, kata Tamrin, maka ucapkan selamat tinggal kebebasan pers. "Misalnya, seorang pemilik modal sampai masuk ke ruang dewan redaksi dan memberikan instruksi. Itu tidak ada lagi kebebasan pers. Kecuali jika dia mengontrol dari jauh dengan batas toleransi tidak apa-apa. Tapi sampai mempengaruhi isi informasi, berbahaya," tegasnya.

Sementara itu, menurut wartawan senior Albert Kuhon, pers masa kini jangan mau terus diperalat oleh pemilik modal. Berikan berita yang diinginkan masyarakat dan dibutuhkan masyarakat, bukan mengikuti kebutuhan pemilik modal.

"Berikan kebebasan pers itu seutuhnya. Biarkan pers menjadi kepanjangan tangan dari masyarakat dan memberikan informasi kepada masyarakat, bukan menjadi kepanjangan tangan pemilik modal," pungkas Kuhon. (kompas.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved