Di Pulau Jawa Ada 584 Desa yang Rawan Bencana Tsunami, Ini Bentuk Antisipasinya
Rapat penajaman ekspedisi Destana (Desa Tangguh Bencana) Tsunami telah berlangsung sejak 12 Juli hingga 17 Agustus 2019 di Pulau Jawa
Penulis: Daniel Andreand Damanik | Editor: Ichsan
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Daniel Andreand Damanik
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Rapat penajaman ekspedisi Destana (Desa Tangguh Bencana) Tsunami telah berlangsung sejak 12 Juli hingga 17 Agustus 2019 di Pulau Jawa. Untuk segmen Jawa Barat digelar di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat Jl Soekarno Hatta, Bandung, Rabu (17/7/2019).
Acara tersebut dihadiri dan dibuka oleh Direktur Pemberdayaan Masyarakat BNPB Lilik Kurniawan. Saat membuka rapat, Lilik menyampaikan bahwa ekspedisi di awali Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
"Di awali di Jatim, dan ditutup nantinya di Banten pada 14 Agustus 2019 bertepatan dengan Hari Pramuka. Rencananya, Presiden RI yang menutup. Di sepanjang Pulau Jawa, ada 584 Desa yang rawan terhadap bencana alam tsunami," kata Lilik Kurniawan, Rabu (17/7/2019).
Metode ekspedisi akan dilakukan secara berbeda di setiap daerah. Namun, Lilik menambahkan bahwa namanya tetap ekspedisi. Harapannya, ekpedisi bisa memberikan edukasi kepada masyarakat agar siap menghadapi bencana tsunami.
Lilik menilai, bahwa ekspedisi selama ini hanya ramai di media, tapi kenyataannya masih nol. Ekpedisi masih sering melakukan seremonial belaka.
• Nyanyikan Yel-yel Penyemangat, 450 Personel Yonif Raider 300/Brajawijaya Siap ke Perbatasan Papua
Pada saat pelaksanaan ekspedisi, semua lapisan masyarakat harus dilibatkan agar bisa lebih mandiri saat menghadapi bencana alam. Aparatur Desa, Kecamatan, Babinsa, Babinkamtimbmas harus dilibatkan dalam ekpedisi Desa Tangguh Bencana.
"Rencanannya akan diberikan penghargaan bagi desa yang dinilai tangguh menghadapi bencana. Destana juga akan mendapat sertifikat dari Badan Standarisasi Nasional (BSN) untuk mendapat desa sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI). Di Banyuwangi, dari 48 Desa, hanya 19 Desa yang layak menerima SNI," katanya.
Masih banyaknya desa di Banyuwangi yang belum sesuai standar desa tangguh, disebabkan karena ekspedisi tersebut masih perdana dilakukan di Indonesia. Jadi wilayah Bayuwangi masih daerah percobaan. Lilik berharap, daerah selanjutnya bisa lebih baik , mandiri, dan menjadi desa tangguh bencana.
• Jimat Baru Persib Bandung, Turunkan Pemain Ini Sejak Menit Awal, Maung Bandung Tak Kalah di 2 Laga
Di Jawa Barat, ekspedisi akan di mulai tanggal 02 Agustus yang di awali Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Saat ekspedisi dilakukan, akan dilakukan juga kegiatan panggung ekspedisi yang isinya tentang pertunjukan kesiapsiagaan masyarakat, pemutaran film kebencanaan, dan penjelasan pakar terkait bencana.