Minggu, 26 April 2026

Maskapai Asing Bukan Solusi Turunkan Harga Tiket Pesawat, Ini Risiko yang Dihadapi

Kedua, membuka perusahaan dengan bekerja sama dengan pihak lokal, seperti yang dilakukan AirAsia.

Editor: Ravianto
TRIBUNNEWS/APFIA
Pramugari VietJet di acara konferensi pers di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta Pusat, Selasa (22/8/2017). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ria Anatasia

TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - Pengamat industri penerbangan sekaligus Presiden Direktur Aviatory Indonesia Ziva Narendra mengatakan, membuka pintu bagi maskapai asing untuk melayani rute penerbangan domestik bukanlah solusi untuk menurunkan harga tiket pesawat yang dianggap mahal oleh masyarakat.

"Itu bukan menjadi solusi, tapi bisa menjadi opsi," ucapnya dalam acara diskusi "Buka Pintu untuk Maskapai Asing, Solusi Tiket Mahal?" di Jakarta, Rabu (19/6/2019).

Dia menjelaskan, terdapat dua pintu untuk masakapai asing mengudara di langit Indonesia.

Pertama, dengan membuka rute penerbangan saja.

Kedua, membuka perusahaan dengan bekerja sama dengan pihak lokal, seperti yang dilakukan AirAsia.

Meski begitu, menurutnya, belum tentu maskapai asing tertarik melayani rute-rute domestik di tanah air.

Kecuali untuk destinasi favorit bagi masyarakat internasional, seperti ke Denpasar, Bali.

"Kalau buka rute Vietjet sudah buka terbang ke Denpasar? kalau ada destinasi yang potensial buat mereka. Tapi untuk rute lain? Medan, Jakarta, Balikpapan, Makassar apakah menarik buat maskapai asing?," jelasnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, beban risiko untuk membuka usaha penerbangan di Indonesia tidaklah sedikit.

Ziva menjelaskan, semua maskapai memiliki biaya dan margin yang berbeda-beda.

Selain itu, menurutnya, kenaikan harga tiket pesawat tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan di bagian global lainnya. Hal ini tentu jadi pertimbangan untuk ekspansi ke pasar Indonesia.

"Menjadi maskapai kondisinya berat bukan hanya di Indonesia saja, tapi global pun juga begitu.Harga minyak, gas bumi, avtur ini bukan di Indonesia saja meski di Indonesia terbilang mahal," jelas Ziva.

Ziva mengakui, masuknya maskapai asing akan meningkatkan kompetisi industri penerbangan, sehingga terhindar dari duopoli atau dominasi dua grup besar maskapai saja.

Hanya saja, Ziva mengatakan bukan berarti duopoli selalu berimbas negatif.

"Kalau duopoli tapi pangsa pasar terlayani seperti di Jepanh dan Australia kenapa tidak? Kalau tidak besperti itu berarti tidak sehat, butuh pemain lagi berarti," tutur dia.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved