Hiswana Migas Purwakarta Ungkap Soal Penyebab Sering Terjadinya Kelangkaan Gas Elpiji Tiga Kilogram

Kelangkaan gas elpiji tiga kilogram atau tabung gas melon di sejumlah daerah sempat terjadi sejak awal Bulan Ramadan 2019.

Hiswana Migas Purwakarta Ungkap Soal Penyebab Sering Terjadinya Kelangkaan Gas Elpiji Tiga Kilogram
Tribun Jabar/Gani Kurniawan
Ilustrasi: Pekerja mengumpulkan tabung gas elpiji tiga kilogram yang kosong di sebuah agen, Kota Bandung, Rabu (6/12/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Haryanto

TRIBUNJABAR.ID, PURWAKARTA - Kelangkaan gas elpiji tiga kilogram atau tabung gas melon di sejumlah daerah sempat terjadi sejak awal Bulan Ramadan 2019.

Ketua DPC Hiswana Migas Purwakarta Karawang, Ary Syafrudin menyebut bahwa kelangkaan gas bersubsidi itu disebabkan salah sasaran.

Sebab menurutnya banyak masyarakat yang terbilang mampu dalam segi ekonomi, namun tetap menggunakan gas yang diperuntukkan bagi masyarakat tidak mampu.

"Padahal ya begitu, silahkan tanyakan saja pegawai negeri atau keluarga yang mampu, mereka menggunakan gas bersubsidi atau non subsidi? Bahkan ada yang sudah punya mobil pribadi, tapi di rumah masih gunakan gas melon," kata Ary saat dikonfirmasi melalui telepon, Rabu (15/5/2019).

Gas Melon Sempat Langka di Purwakarta, Ini Tanggapan dan Aksi Pertamina

Namun ujung-ujungnya jika terjadi kelangkaan gas bersubsidi di lapangan, yang pihak yang disalahkan ialah agen atau pertamina.

Padahal dia masalah kelangkaan gas setiap memasuki bulan suci ramadan sudah diantisipasi jauh-jauh hari.

Maka dari itu setiap tahun Pertamina memberikan tambahan alokasi gas bersubsidi secara khusus selama bulan Ramadan.

Jika saja gas melon tersebut tepat sasaran, hanya digunakan oleh masyarakat yang kurang mampu, kelangkaan gas seperti  yang sempat terjadi akan terhindarkan.

"Dengan begitu pasokan Elpiji 3 Kilogram dipastikan akan cukup, dan tidak akan ada kasus kelangkaan," ucapnya.

Gara-gara Bobotoh, Rene Mihelic Tak Sabar Jalani Debut Bersama Persib Bandung di Liga 1

Ary mengatakan jika kelangkaan gas LPG 3 Kilogram masih terasa, pihaknya menyarany untuk segera melaporkannya ke pihak desa atau kelurahan setempat.

Termasuk jika ada elpiji 3 kg yang dijual dengan harga mahal, seperti di atas Rp20.000 per tabung. Sementara idealnya sesuai dengan HET (Harga Eceran Tertinggi) Elpiji 3 Kg itu dijual dengan Rp16.500 per tabung.

Sebab kata dia, Tidak bisa dipungkiri di lapangan masih banyak oknum masyarakat yang memamfaatkan bisnis gas bersubsidi dengan menaikkan harga semena-mena.

"Nanti laporan itu akan ditembuskan ke kami dan akan segera ditindak lanjuti. Oknum yang menjual lebih dari ketentuan akan ditindak tegas," ujar dia.

Penulis: Haryanto
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved