Memasuki Musim Kemarau, Sungai Citarik Mulai Menyusut, Warga Pun Turun ke Sungai

Mendekati musim kemarau, Sungai Citarik yang berada di antara Kecamatan Solokanjeruk dan Kecamatan Rancaekek

Memasuki Musim Kemarau, Sungai Citarik Mulai Menyusut, Warga Pun Turun ke Sungai
tribunjabar/hakim baihaqi
Memasuki musim kemarau Sungai Citarik menyusut 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Mendekati musim kemarau, Sungai Citarik yang berada di antara Kecamatan Solokanjeruk dan Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung mengalami penyusutan volume air.

Pantauan Tribun Jabar, Senin (13/5/2019) di Sungai Citarik sekitar Desa Sukamanah, Kecamatan Rancaekek, tinggi muka air (TMA) sungai tersebut hanya sekitar 100 hingga 150 sentimeter.

Tampak beberapa warga sekitar tengah beraktivitas di aliran Sungai Citarik yang hanya sepinggang orang dewasa, mulai dari menjaring ikan hingga mengumpulkan sampah plastik.

Akibat penyusutan, tersebut, sungai Citarik pun tampak sampah rumah tangga, mulai dari sampah plastik, styrofoam, batang pohon tumbang, popok bayi, dan beberap peralatan rumah tangga.

Warga sekitar, Danang (56), mengatakan, volume air Sungai Citarik mulai menyusut sejak dua pekan terakhir dan lumpur di bagian bantaran sungai sudah mulai mengering.

"Tanda-tanda mau kemarau biasanya seperti ini, sungai jadi dangkal," kata Danang di Sungai Citarik, Kabupaten Bandung, Senin (13/5/2019).

Mantan Bupati Bekasi Sudah Melahirkan, Sang Bayi akan Tinggal di Rutan Bersama Ibunya Selama 2 Tahun

Pada awal April, kata Danang, volume air di sungai tersebut mengalami peningkatan, hal tersebut ditandai dengan naik permukaan hingga mendekati bantaran serta, air sungai berubah menjadi warna cokelat.

Ia mengatakan, pada saat puncak musim kemarau anak sungai Citarum mengalami kekeringan, dan hampir seluruh bagian dasar sungai mulai terlihat

Kemudian, beberapa warga pun memanfaatkan sungai yang kering tersebut untuk bercocok tanam, mulai dari menanam jagung, singkong, kacang, hingga ubi.

"Kalau kemarau jadi lahan tanam, kalau musim hujan tidak bisa. Kadang-kadang air sungainya meluap sampai jalan," katanya.

Soal Sepasang Remaja Bermesraan di Alun-alun Bandung Saat Bulan Puasa, Begini Kata Satpol PP

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal, mengatakan, musim kemarau berkaitan erat dengan peralihan angin baratan (monsun Asia) menjadi angin timuran (monsun Australia).

Ia menambahkan, pihak BMKG mengingatkan masyarakat bahwa perlu diwaspadai wilayah-wilayah yang akan mengalami musim kemarau lebih awal dan mulai terjadi sejak April 2019.

"Sebagian wilayahnya yaitu NTT, NTB, Jawa Timur bagian Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat bagian tengah dan Selatan, Sebagian Lampung, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Riau, Kalimantan Timur, dan Selatan," katanya.

Penulis: Hakim Baihaqi
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved