Kembali Lakukan Aktivitas Rutin Setiap Bulan Ramadan, Dedi Mulyadi Ngabuburit di Buruan Urang Lembur

Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi kembali menggelar kegiatan rutinnya setiap bulan Ramadan.

Kembali Lakukan Aktivitas Rutin Setiap Bulan Ramadan, Dedi Mulyadi Ngabuburit di Buruan Urang Lembur
Tribun Jabar/Haryanto
Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi menggelar kegiatan rutinnya 'Ngabuburit di Buruan Urang Lembur' di Desa Cilingga, Kecamatan Bojong, Purwakarta pada Rabu (8/5/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Haryanto

TRIBUNJABAR.ID, PURWAKARTA - Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi kembali menggelar kegiatan rutinnya setiap bulan Ramadan.

Acara tersebut berupa Ngabuburit di Buruan Urang Lembur, acara yang terbilang cukup santai kali ini digelar di Desa Cilingga, Kecamatan Bojong, Purwakarta pada Rabu (8/5/2019).

Ribuan warga dari berbagai kalangan nampak memadati halam kantor desa setempat.

Setelah mendengarkan pidato dan arahan dari Caleg terpilih DPR RI Dapil Jabar 7 dari Partai Golkar itu, warga juga disediakan makanan dan minuman untuk buka bersama.

"Kegiatan rutin yang selalu kami gelar setiap bulan Ramadan. Selain tetap menjalin tali silaturahmi dengan warga di desa-desa dan ini tradisi, karena bertemu warga itu bukan hanya butuh atau pas lima tahun sekali (saat kampanye)," ujar Dedi disela acara.

Selain itu menurut Dedi, dirinya menggelar kegiatan serupa sejak lama, sejak 2004.

Operasi Miras Pekat Semakin Rajin Digelar oleh Jajaran Polres Purwakarta

Hal tersebut menurutnya bagian bentuk komunikasi langsung dengan warga, agar mengetahui apa sebenarnya yang diinginkan warga.

"Ngabuburit itu menjadi bagian budaya sunda yaitu; hirup jeung ngahirupkeun, selain itu bagian komunikasi dalam menampung aspirasi warga setiap saat," kata pria yang akrab disapa Kang Dedi ini.

Dihadapan warga, Dedi mengingatkan akan pentingnya menjaga warisan orang tua diantaranya adalah budaya. Salah satunya ialah budaya 'anteran' ketika menjelang idul fitri, menurut budayawan ini tradisi anteran sudah mulai hilang terutama di generasi muda.

"Konsepsi adiluhung yang dimiliki kebudayaan orang sunda, diantaranya budaya silih anteran, yaitu tradisi saling silaturahmi antar saudara dengan cara memberikan makanan atau sesuatu. Ity harus tetap dijaga karena hari ini sudah mulai hilang," ujarnya.

Kisah Sopir Taksi Online Perempuan di Garut Antar Jenazah ke Banjarwangi, Waktu Tempuh 3 Jam [1]

Dedi pun mengingatkan, membangun produktifitas harus tetap dilakukan terutama oleh generasi muda. Perubahan zaman jangan dijadikan alasan hilangnya sebuah tradisi, karena menurutnya banyak negara maju yang tetap menjaga tradisinya terutama dalam produktifitas.

Terlebih lagi masyarakat desa harus bisa terjaga akar kebudayaanya. Sehingga di sebuah desa harus tetap menjaga peradabannya agar tidak tergerus pola perilaku yang berubah.

"Padahal di negara maju tetap menjaga budayanya, dengan menurunkan konsumsi perbanyak angka produktifitas, apabila generasi muda lebih komsumtif maka kedepannya bahaya," kata Dedi.

Penulis: Haryanto
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved