Pilpres 2019

Ijtima Ulama Rekomendasikan Diskualifikasi Jokowi, Pengamat: Tidak Masuk Akal Cenderung Halusinasi

Ijtima Ulama merekomendasikan KPU mendiskualifikasi Jokowi-Maruf Amin dari Pilpres 2019. Pengamat politik menilai hal itu tidak masuk akal.

Ijtima Ulama Rekomendasikan Diskualifikasi Jokowi, Pengamat: Tidak Masuk Akal Cenderung Halusinasi
Kolase Tribun Jabar (Instagram/jokowi/prabowo)
Update Real Count C1 KPU Pilpre 2019, suara Jokowi dan Prabowo jomplang di satu daerah. Paslon 01 capai 2 juta, Paslon 02 baru mau 200 ribu. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ery Chandra

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Ijtima Ulama membuat keputusan yang menjadi sorotan banyak pihak. Mereka merekomendasikan untuk mendiskualifikasi pasangan calon presiden 01 Jokowi-Maruf Amin dari Pilpres 2019.

Usulan itu dimunculkan karena dalam Pilpres 2019 banyak terjadi kecurangan.

Pengamat Politik Universitas Telkom Dedi Kurnia Syah berpendapat, ijtima ulama tidak dapat mempengaruhi keputusan konstitusional. Sehingga desakan untuk mendiskualifikasi pasangan Jokowi-Maruf Amin tidak masuk akal bahkan cenderung halusinatif atau tidak masuk akal.

Menurutnya, tokoh agama yang turut serta dalam ijtima ulama itu semestinya memahami konsep politik. Di mana proses Pemilu 2019 ini telah sesuai perundangan atau belum.

"Jika dirasa belum maka tindakan bijaknya adalah dengan membawa ke ranah hukum. Tentu dengan mematuhi berbagai tingkatannya. Semisal, ke Bawaslu lebih dahulu sebelum membawa ke tingkatan lebih tinggi," ujar Dedi Kurnia Syah, saat dihubungi Tribun Jabar, melalui ponselnya, di Kota Bandung, Kamis (2/5/2019).

BPN Prabowo-Sandiaga Laporkan KPU ke Bawaslu, Minta Situng Dihentikan

Dedi menuturkan Rizieq Shihab meskipun sebagai tokoh utama dalam gerakan politik Islam, tetap saja tak dapat dijadikan rujukan dalam keputusan politik KPU.

"Karena proses politik harus selesai dengan koridor politik juga," katanya.

Direktur Pusat Studi Demokrasi dan Partai Politik (PSDPP) itu mengatakan, yang dilakukan tokoh ijtima ulama tersebut tidak lebih hanya sekadar penyampaian aspirasi.

Sama halnya dengan kelompok lain, yang memang punya hak bersuara.

Halaman
123
Penulis: Ery Chandra
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved