Sorot

Jadwal Liga, Cost, and Recovery

Memang Liga Indonesia ingin seperti liga Eropa. Tapi melihat geografis Indonesia,jadwal liga harus disesuaikan dengan cost dan waktu recovery pemain.

Jadwal Liga, Cost, and Recovery
TRIBUN JABAR
Oktora Veriawan, Wartawan Tribun. 

JADWAL  Liga 1 Indonesia musim 2019 telah resmi ditetapkan. Kick off akan digelar pada 8 Mei dengan laga pembuka antara juara bertahan Persija melawan tim promosi Semen Padang. Persib sendiri akan melakoni laga perdana melawan Perseru Badak Lampung FC pada 10 Mei.
Draf jadwal lengkap sudah dirilis oleh PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator liga. Namun baru sejam dirilis, arus protes dari beberapa klub sudah berdatangan. Salah satunya dari manajemen Persib.
Manajer Persib, Umuh Muchtar, mengaku kecewa karena PT LIB tak pernah melibatkan klub dalam penetapan jadwal tersebut. Umuh berkilah penetapan jadwal ini terasa janggal dan aneh. Boleh dikatakan seolah-olah ada setingan. Seharusnya, seperti tahun-tahun sebelumnya, penyusunan jadwal melibatkan perwakilan klub, kata Umuh.
Memang cukup beralasan protes yang disampaikan oleh Umuh. Pasalnya, dengan luas wilayah Indonesia membuat anggaran tiap klub membengkak seandainya tak ada pengaturan jadwal pertandingan yang bersahabat.
Artinya, jadwal pertandingan di daerah yang cukup jauh dan membutuhkan dana besar harus diatur sedemikian rupa. Misalkan, laga tandang ke wilayah Indonesia bagian timur alangkah baiknya tim tamu bertanding dua kali melawan tim yang sama-sama di Indonesia timur. Atau tim tamu bisa bertanding away dua kali dengan tim yang jaraknya berdekatan.
PT LIB tidak bisa mengadopsi pertandingan seperti di liga elite Eropa yang wilayahnya tak begitu luas. Di sana tim bisa bermain sekali kandang sekali tandang dengan waktu rekoveri yang mencukupi. Di Indonesia tidak bisa seperti itu.
Dengan waktu rekoveri yang tak mencukupi bisa membuat pemain rawan cedera. Jika dipaksakan mengadopsi sistem kompetisi di Eropa, maka kualitas permainan dan kompetisi akan menurun. Hal ini yang diacuhkan oleh PT LIB.
Berdasarkan jadwal yang sudah disusun PT LIB, kompetisi musim ini tetap mengadopsi sistem pertandingan sekali kandang sekali tandang. Saya mengambil contoh jadwal Persib di putaran pertama musim 2019. Setelah melawan Perseru di laga perdana (kandang, 8 Mei), Persib akan melawan Arema (tandang, 16 Mei), Pesipura (kandang, 22 Mei), dan Bali (tandang, 26 Mei). Lalu kompetisi diliburkan 20 hari untuk merayakan Lebaran.
Setelah itu, Persib lawan PSIS (kandang, 16 Juni), Barito (tandang, 23 Juni), Madura (kandang, 29 Juni), Borneo (tandang, 5 Juli), Persela (kandang, 9 Juli), Kalteng (tandang, 14 Juli), Persebaya (tandang, 20 Juli), PSM (kandang, 27 Juli), Persija (tandang, 3 Juli), Bhayangkara (kandang, 11 Juli), Semen Padang (tandang, 16 Juli), PSS (kandang, 20 Juli), dan PS Tira (tandang, 24 Juli).
Dengan geografis Indonesia seperti ini, jika jadwal seenaknya disusun tanpa mempertimbangkan matang-matang cost and recovery, wajar jika di ujung kompetisi banyak klub yang merasa dirugikan dengan jadwal pertandingan. Wajar juga jika klub menyebut ada setingan untuk memuluskan salah satu klub menjadi juara.
Wajar juga jika Liga Indonesia di kemudian hari bisa-bisa menjadi kuburan massal karier pesepakbola profesional karena pengaturan jadwal pertandingan yang tak manusiawi. Kenapa, karena dengan cost yang sangat tinggi, bisa saja klub jadi kurang memperhatikan pemain, semisal menunggak gaji dan tak ada perhatian terhadap pemain yang cedera.(*)

Penulis: Oktora Veriawan
Editor: Oktora Veriawan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved