SLBN Cicendo Kota Bandung, Sekolah untuk Tunarungu Tertua di Indonesia, Berdiri Tahun 1930

Bangunan Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Cicendo Bandung di Jalan Cicendo Nomor 2, Kota Bandung merupakan sekolah bagi siswa tunarungu tertua

SLBN Cicendo Kota Bandung, Sekolah untuk Tunarungu Tertua di Indonesia, Berdiri Tahun 1930
tribunjabar/syarif pulloh anwari
Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Cicendo Bandung di Jalan Cicendo Nomor 2, Kota Bandung merupakan sekolah bagi siswa tunarungu tertua di Indonesia. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Syarif Pulloh Anwari

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Bangunan Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Cicendo Bandung di Jalan Cicendo Nomor 2, Kota Bandung merupakan sekolah bagi siswa tunarungu tertua di Indonesia.

SLBN Cicendo Bandung didirikan pemerintahan Kolonial Belanda pada 3 Januari 1930 atas inisiatif Ny CM Roelfsema Wesselink, istri Dokter HL Roelfsema, seorang ahli THT di Indonesia.

"Sekolah ini paling tua se-Indonesia untuk sekolah tuli bisu, bahkan se Asia dan sekolah pertama tuli bisu," ujar Wakasek Kurikulum guru kelas XI, Ine Rahayu saat ditemui Tribun Jabar di SLBN Cicendo Kota Bandung, Kamis (14/3/2019).

Sekolah ini dibangun pada 6 Mei 1933 oleh Karisidenan Priangan dan Hoogedelgeboren Vrouwe A.C de Jonge, Gebaran Baronesse Van Wassenoar, istri dari Gouverneur Generaal Van Nederland disch Indie, Zijne Excellentie Mr. D.C. de Jonge.

Pada 8 Desember 1933 gedung sekolah dan asrama diresmikan, jumlah muridnya 26 orang dan 6 orang tinggal di luar asrama.

Setelah dibangun, gedung sekolah ini beberapa kali mengalami ahli fungsi saat Jepang datang menjajah Indonesia dari tahun 1942 sampai 1945.

"Ya sekolah ini sudah ada diperuntukan bagi penyandang tuli - bisu, tetapi pada masa pemerintahan Jepang, itu sempat dipergunakan oleh tentara Jepang (selama peperangan jepang) dan setelah peperangan. Jepang berakhir lembaga pendidikan sekolah dan asrama dipergunakan untuk klinik bersalin," ujar Ine.

Liverpool Lolos ke 8 Besar Liga Champions, Juergen Klopp Malah Dibuat Frustrasi oleh 2 Pemainnya

Ine menjelaskan setelah Indonesia merdeka, fungsi bangunan tersebut dikembalikan lagi menjadi sekolah tuli-bisu.

"Setelah Indonesia merdeka dikembalikan fungsi ke awalnya yaitu sebagai sekolah tuli - bisu itu sekitar tahun 1950-an," ujarnya.

Pada tahun 1954 Departemen Pendidikan menetapkan lembaga pendidikan untuk para penyandang cacat di Indonesia dinamakan Sekolah Luar Biasa (SLB).

SLB B Cicendo Bandung berstatus swasta, yaitu kepunyaan Yayasan Perkumpulan Penyelenggara Pendidikan Anak Tunarungu (YP3 ATR) yang juga ditetapkan oleh Pendidikan dan Kebudayaan menjadi sekolah latihan SGPLB ( Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa).

Ine menuturkan pada tahun 2009, SLB Negeri Cicendo Bandung, resmi mejadi sekolah negeri.

"Bulan Februari 2009 kita berubah status, sekolah ini menjadi negeri oleh Gubernur Jawa Barat," ujarnya

Bangunan dengan gaya arsitek Art Deco ini menjadi bangunan Cagar Budaya yang ditetapkan perda Kota Bandung No : 19/2009. Keterangan ini ditulis di sebuah keramik yang ditempel ditembok depan bangunan sekolah tersebut.

Upah Petugas Sorlip Surat Suara di Kota Cimahi Naik Lima Rupiah, dari Rp 75 jadi Rp 80 Per Lembar

Penulis: Syarif Pulloh Anwari
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved