Di Munas dan Konbes NU 2019 Banjar, Masalah Sampah Plastik Turut Dibahas

Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama tahun ini digelar di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar

Di Munas dan Konbes NU 2019 Banjar, Masalah Sampah Plastik Turut Dibahas
TRIBUN JABAR/ISEP HERI HERDIANSAH
Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siroj saat memberikan sambutan di pembukaan Munas Alim Ulama dan Konbes Nahdlatul Ulama tahun ini digelar di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, mulai Rabu (27/2/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Isep Heri

TRIBUNJABAR ID, BANJAR - Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama tahun ini digelar di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, mulai Rabu (27/2/2019) hingga Jumat (1/3/2019).

Dalam kegiatan tersebut diagendakan akan membahas sejumlah masalah penting yang diklasifikasi dalam Masâil Wâqi’iyah (mencakup bahaya sampah plastik, niaga perkapalan, bisnis money game, dan sel punca), Masâil Maudlûiyah (masalah kewarganegaraan dan hukum negara, konsep Islam Nusantara, dan politisasi agama), dan Masûil Dîniyah Qanûniyah (RUU Anti-Monopoli dan Persaingan Usaha agar kedzaliman ekonomi global dapat dicegah dan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual).

Di bagian Rekomendasi, NU tengah mengkaji agar pemerintah mempertimbangkan kembali pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) untuk mengatasi defisit pasokan energi dalam jangka panjang.

Khusus terkait sampah plastik, Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siroj mengatakan, NU sangat prihatin dengan status Indonesia sebagai penghasil limbah plastik terbesar kedua di dunia setelah China.

9 Juta Masyarakat Percaya Hoaks Pemerintah Larang Azan, Jokowi Ajak Tokoh dan Warga NU Lakukan Ini

Dia memaparkan Indonesia menghasilkan sekitar 130.000 ton sampah plastik setiap hari.

"Hanya separuh yang dibuang dan dikelola di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sisanya dibakar secara ilegal atau dibuang ke sungai dan laut yang merusak ekosistem. Ketika sampah mikroplastik berubah menjadi nanoplastik dan kemudian dimakan ikan dan seterusnya dikonsumsi manusia, limbah plastik telah menjadi ancaman nyata bagi kesehatan manusia dan lingkungan," kata dia, Rabu (27/2/2019).

Mengingat semakin mendesaknya polusi plastik, dia mengatakan NU mendesak Pemerintah melakukan upaya yang lebih keras untuk menekan dan mengendalikan laju pencemaran limbah plastik di Indonesia.

Selain itu, menyadari dan menyikapi posisi dan kondisi Indonesia yang rawan bencana alam, semua pihak terutama Pemerintah harus berupaya memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan bencana masyarakat terutama di daerah berisiko tinggi terdampak bencana.

Kenakan Sarung dan Sorban, Jokowi Buka Munas dan Konbes NU 2019 di Kota Banjar

Untuk itu dikatakannya, Nahdlatul Ulama mendorong agar hal itu dilakukan secara beberapa hal.

"Meningkatkan kapasitas (pengetahuan dan skill) masyarakat dalam menghadapi bencana berbasis kearifan lokal terutama melalui pesantren dan madrasah. Pemerintah Daerah harus menjadikan pengurangan risiko bencana terintegrasi dalam rencana pembangunan," ujar dia.

"Kemudian melakukan simulasi rutin penanganan bencana. Menyepakati sistem peringatan dini dan mekanisme penyelamatan diri saat terjadi bencana agar masyarakat dapat menyelamatkan diri. Mengalokasikan anggaran yang memadai," lanjutnya.

Kim Jeffrey Bicara Persaingan di Grup A Piala Presiden, Ini Lawan Berat Persib Bandung untuk Lolos

Jadwal Liga Inggris Dini Hari Nanti, Ada Derbi London & Tim-tim Papan Atas Berlaga

Penulis: Isep Heri Herdiansah
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved