Orang Hilang

Bercermin pada Kasus Hilda Fauziah, KPAID Harap Pernikahan Dini di Tasikmalaya Dikurangi

Kasus Hilda Fauziah yang meninggalkan rumahnya di Kampung Cijambu, Tasikmalaya, karena diduga belum siap dinikahkan orang tuanya.

Bercermin pada Kasus Hilda Fauziah, KPAID Harap Pernikahan Dini di Tasikmalaya Dikurangi
Tribun Jabar/Isep Heri
Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya, Ato Rinanto, saat ditemui di Mapolres Tasikmalaya seusai mendampingi keluarga Hilda, Selasa (26/2/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Isep Heri

TRIBUNJABAR.ID, TASIKMALAYA- Kasus Hilda Fauziah yang meninggalkan rumahnya di Kampung Cijambu, Desa Cikawung, Kecamatan Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya, karena diduga belum siap dinikahkan orang tuanya.

Menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kabupaten Tasikmalaya, bukan kali pertama.

"Kami menyikapi hal ini memang ternyata masih ada di beberapa daerah khususnya di Kampung Cijambu," kata Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya, Ato Rinanto, saat ditemui di Mapolres Tasikmalaya seusai mendampingi keluarga Hilda, Selasa (26/2/2019).

Ato menyebut pada empat tahun yang lalu, pihaknya menerima laporan dengan kasus yang hampir serupa.

"Ada laporan ke kami di Kecamatan Sukaratu empat tahun yang lalu, peristiwanya hampir sama seperti ini, dan memang tidak dipungkiri di Kabupaten Tasikmalaya di beberapa daerah masih ada tradisi seperti itu," lanjut Ato.

Dalam kasus ini, Ato Rinanto menyatakan memang tidak bisa dipisahkan tradisi yang melekat di sebagian masyarakat.

Keluarga Gian Zola Gelar Nobar Final Piala AFF U-22 antara Timnas Indonesia vs Thailand di Rumah

Persib Bandung Masih Menanti Fabiano Beltrame, Masuk sebagai Pemain Naturalisasi

Karena itu, pihaknya hanya mampu memberikan pengertian bahwa apapun itu yang perlu diperhatikan ialah pemenuhan dahulu atas hak-hak anak.

"Karena timbulnya ini karena ada adat di sana yang memang berlangsung turun- temurun, memang pernikahan dilangsungkan saat sudah dewasa tapi perjanjian komitmen dilakukan saat anak-anak. Tentunya kami hanya bisa menyoroti tanpa maksud mengubah atau mengganggu kearifan lokal dan tradisi, tetapi kami sebagai KPAID dalam hal ini memperhatikan hak-hak anak bisa terpenuhi," tutur Ato.

Dia menyoroti dalam pola komunikasi seyogyanya anak seusia Hilda Fauziah memang belum siap secara psikologis untuk tahap pernikahan.

"Dalam kasus Hilda pola komunikasi antara anak dan orang tua memang ada, tetapi dalam pandangan kami anak seusia itu dikatakan belum layak dan siap untuk komunikasi terkait ini. Pola pikir dan psikologis nampaknya belum siap menghadapi komunikasi mengenai pernikahan maka timbulah persoalan seperti ini," kata dia.

Untuk meminimalisasi kejadian serupa terulang, terutama dalam rangka mengurangi pernikahan dini, KPAID akan berupaya melakukan sosialisasi pada masyarakat.

"Kami akan bekerja sama dengan stakeholder terkait untuk memberi pengertian kepada masyarakat dengan tidak mengurangi tradisi tetapi hak-hak anak harus terpenuhi, komunikasi diperlukan apalagi hal ini menyangkut masa depan anak," kata Ato Rinanto.

Penulis: Isep Heri Herdiansah
Editor: Tarsisius Sutomonaio
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved