Momen Pemilu 2019, Usaha Makanan dan Minuman di Indonesia Diprediksi Tetap Tumbuh

Pelaku usaha di sektor industri makanan dan minuman (mamin) ingin pada tahun 2019 bisnis ini bisa tumbuh lebih baik dari tahun lalu.

Momen Pemilu 2019, Usaha Makanan dan Minuman di Indonesia Diprediksi Tetap Tumbuh
shutterstock
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Siti Fatimah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pelaku usaha di sektor industri makanan dan minuman (mamin) ingin pada tahun 2019 bisnis ini bisa tumbuh lebih baik dari tahun lalu.

Pesta demokrasi Pemilu 2019 juga diharapkan dapat mendongkrak pertumbuhan di sektor ini.

Tantangan di industri ini salah satunya adalah bahan baku yang masih import seperti tepung. Tahun lalu, kenaikan harga tepung yang cukup signifikan menjadi salah satu persoalan yang dihadapi terlebih bahan baku ini masih mengandalkan import.

Head of Corporate and Marketing Communucation OT (Orang Tua) Group, Harianus Zebua, mengatakan pada tahun lalu pertumbuhan mamin khususnya produk OT tumbuh satu digit. Sejumlah persoalan dihadapi pada tahun lalu terutama ekonomi global yang mempengaruhi daya beli masyarakat.

Bikin Ngiler, Begini Nikmatnya Tiga Olahan Rawon Khas Jawa Timur yang Harus Anda Coba di Bandung

Kondis tersebut mempengaruhi harga bahan baku. Seperti diketahui, industri mamin saat ini masih memiliki ketegantungan cukup besar pada bahan baku impor seperti gandum yang menjadi bahan baku utama tepung terigu. Menurut Harianus, sekto ini masih 100% mengandalkan impor untuk pengadaan bahan baku ini.

"Tahun lalu, ada growth (pertumbuhan) tapi ada kendala tepung yang mahal banget, dan ini sempat memukul kita terutama pelaku industri yang bahan bakunya tepung," katanya ditemui di sela acara Tango Dilan Day di Ciwalk Bandung, Minggu (24/2/2019) sore.

Diakuinya, pembelian bahan baku yang meningkat akan mempengaruhi biaya produksi industri. Namun pihaknya masih menahan harga melihat daya beli masyarakat belum maksimal. Pihaknya menyiasati dengan peningkatan penjualan produk dengan berbagai startegi bisnis seperti mengemas produk agar menarik minat konsumen.

Seperti kali ini, untuk meningkatkan branding dan mengdongkrak penjualan, OT melalui produk andalan yakni Tango sebagai sponsor utama Film Dilan 1991. Seiring dengan perubahan tren konsumen, segmen generasi milenial melejit menjadi rebutan banyak brand. Wafer TANGO menemukan fakta bahwa generasi milenial suka dengan hal unik, colorful dan anti mainstream. Merujuk ke hal-hal tersebut, Wafer TANGO sebagai sponsor utama film Dilan 1991, mengeluarkan desain eksklusif bertema Dilan 1991 di kemasan wafer TANGO pouch varian rasa coklat dan vanila. Wafer TANGO mengeluarkan 12 seri desain berbeda, delapan seri desain diantaranya berpasangan, empat seri desain di varian coklat dan empat seri desain di varian vanila.

The H Cafe, Tempat Nongkrong Hight Harga Low untuk Semua Kalangan

"Selain branding, kami juga ingin mendukung perkembangan industri kreatif di Indonesia, khususnya bidang perfilman," katanya.

Kementerian Perindustrian mencatat, pada kwartal III 2018, industri mamin tumbuh sekitar 10, 7%. Industri ini diprediksi akan tumbuh 8- 9% di tahun politik ini. Relatif stagnan, namun pertumbuham penduduk akan turut mendongkrak pertumbuhan. "Tahun ini optimis bisa tumbuhan dua digit. Tahun politik tentu ada pengaruh tapi tidak signifikan," katanya.

Terpisah, Kepala BPS Jawa Barat, Dody Herlando mengatakan, khusus Jabar, nilai impor Jawa Barat Desember 2018 mencapai USD 0,97 milyar turun 6,44 persen dibandingkan dengan November 2018, hal ini disebabkan oleh turunnya nilai impor Non Migas sebesar 8,26 persen, sedangkan nilai impor Migas naik sebesar 11,80 persen.

"Dilihat dari struktur penggunaan barang impor Jawa Barat untuk bahan baku pada Januari hingga Desember 2017 sebesar 81, 57% dan pada tahun lalu dari Januari hingga Desember 2018, naik menjadi 82,13 persen," kata Dody di Kantor BPS Jabar, Senin (25/2).

Dari sisi volume, impor bulan Desember 2018 dibanding bulan sebelumnya menunjukkan peningkatan 5,84 persen, dari sebelumnya 362,49 ribu ton menjadi 383,66 ribu ton. Hal ini disebabkan oleh naiknya volume impor Migas sebesar 39,97 persen dengan kontribusi sekitar 51,92 persen. Sedangkan volume impor Non Migas turun 21,19 persen yang berperan 48,08 persen.

Secara y-o-y juga mengalami peningkatan 11,35 persen, disebabkan naiknya volume impor Migas sebesar 38,66 persen, sedangkan volume Non Migas turun 12,81 persen.Untuk kumulatif Januari-Desember (y-t-d), volume impor juga menunjukkan pertumbuhan negatif sebesar 3,48 persen, yang disebabkan penurunan volume Migas 10,97 persen, sedangkan volume Non Migas tumbuh positif 6,16 persen. (siti fatimah)

Intip 10 Lokasi Syuting Film Terkenal, Ada Harry Potter, Home Alone, dan Fast and Furious

Purwakarta Kini Punya Bus Wisata Bernama Kidang Pananjung, Hibah dari Pemprov Jabar

Penulis: Siti Fatimah
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved