Banjir Lumpur Setebal 60 Cm di Cisurupan Garut, Akses Jalan ke Garut Selatan Pun Sempat Tertutup

Banjir lumpur menutup badan jalan di Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Sabtu (23/2/2019) malam,

Banjir Lumpur Setebal 60 Cm di Cisurupan Garut, Akses Jalan ke Garut Selatan Pun Sempat Tertutup
tribunjabar/firman wijaksana
Kendaraan berat membersihkan material lumpur yang menutup Jalan Cisurupan setelah banjir lumpur menerjang wilayah tersebut pada Sabtu (23/2/2019) malam. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Firman Wijaksana

TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Banjir lumpur menutup badan jalan di Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Sabtu (23/2/2019) malam, setelah hujan deras terjadi. Akses jalan menuju wilayah selatan Kabupaten Garut sempat tertutup.

Wawan (37), salah seorang sopir elf jurusan Pameungpeuk mengaku sempat terjebak banjir lumpur. Kendaraan tak bisa melintas karena jalan tergenang lumpur yang cukup tebal.

"Jalannya ketutup lumpur. Tebalnya sekitar enam puluh sentimeter. Tapi jadi mengganggu akses lalu lintas," ucap Wawan, Sabtu (23/2/2019).

Menurutnya, ada enam mobil yang terjebak banjir lumpur. Satu kendaraan berat didatangkan untuk membersihkan material lumpur.

"Lebih dari tiga jam jalan enggak bisa dilalui. Enggak tahu kenapa tiba-tiba ada lumpur. Selama ini belum pernah ada kejadian banjir lumpur," ujarnya.

Kepala Pelaksana BPBD Garut, Dadi Djakaria mengaku belum bisa menjelaskan penyebab terjadinya banjir lumpur di Cisurupan. Banjir menutup badan jalan sepanjang 200 sentimeter dan menghambat jalur transportasi menuju wilayah selatan.

"Ada enam kendaraan roda empat yang terjebak banjir. Namun semua kendaraan itu sudah bisa dievakuasi. Petugas pun sudah membersihkan material lumpur," katanya.

Iqbaal Ramadhan Sebut Karakter Dilan Sekarang Lebih Manusiawi, Seperti Apa? Nih Kata Iqbaal

Banjir lumpur terjadi di Kampung Ciharemas, Desa/Kecamatan Cisurupan. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 18.00. Kendaraan pun sempat dialihkan ke jalur alternatif yakni Cigedug, Cicayur, dan keluar di Bayongbong.

Ketua Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I), Mia Kurniawan menyebut jika banjir di kawasan Cisurupan karena rusaknya kawasan hutan. Alih fungsi lahan dari hutan menjadi lahan pertanian juga jadi faktor penyebabnya.

Menurutnya, Pemkab Garut harus belajar dari peristiwa banjir bandang 2016. Pascabanjir bandang, perbaikan kawasan hulu harus segera dilakukan.

"Apalagi kawasan itu merupakan hulu Sungai Cimanuk. Kalau di Cisurupan saja sudah banjir, bagaimana dampaknya ke kawasan hilir di perkotaan Garut," katanya.

Begini Kondisi Pemain Persib Bandung Seusai Laga Melawan Arema FC di Malang

Ia menambahkan, hulu Sungai Cimanuk harus mendapat perhatian dari pemerintah. Jangan sampai banjir bandang jilid kedua terjadi.

Sebelum bencana terjadi, usaha perbaikan kawasan hulu harus jadi langkah nyata. Jangan hanya menyalahkan hujan yang menjadi penyebab banjir.

"Padahal ada faktor dari manusianya kejadian banjir itu. Air itu sudah punya jalurnya sendiri," ujarnya.

Penulis: Firman Wijaksana
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved