Massa Demo BKSDA Jabar, Tolak Cagar Alam Kamojang dan Gunung Papandayan Jadi Taman Wisata Alam.

Massa yang tergabung dalam Aliansi Cagar Alam, berunjuk rasa di depan kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jabar

Massa Demo BKSDA Jabar, Tolak Cagar Alam Kamojang dan Gunung Papandayan Jadi Taman Wisata Alam.
Tribunjabar/Mega Nugraha
Massa berunjukrasa di Kantor BKSDA Jabar menolak Cagar Alam Kamojang dan Cagar Alam Gunung Papandayan jadi Taman Wisata Alam 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mega Nugraha Sukarna

TRIBUNJABAR.ID,BANDUNG - Massa yang tergabung dalam Aliansi Cagar Alam, berunjuk rasa di depan kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jabar di Gedebage, Kota Bandung. Aksi ini terkait penurunan status Cagar Alam Kamojang dan Cagar Alam Gunung Papandayan, Kabupaten Garut jadi taman wisata alam.

Aksi unjuk rasa diwarnai aksi teaterikal yang menggambarkan dampak kerugian penurunan status cagar alam ke taman wisata alam tersebut.

Massa membawa spanduk hingga poster berisi tuntutan bahwa penurunan cagar alam menjadi taman wisata alam ini ‎akan berdampak pada kerusakan alam.

Perwakilan BKSDA Jabar, Himawan Susanto menemui massa yang dikawal polisi dan sempat berdiskusi terkait regulasi penurunan status gunung tersebut.

Penurunan status cagar alam ke taman wisata alam ini didasari oleh Surat Keputusan (SK) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) No 25/2018 yang terbit pada 10 Januari 2019.

SK itu mengatur penurunan fungsi dan status kawasan Cagar Alam Kamojang dan Papandayan, sebagai cagar alam menjadi taman wisata alam.

Banyak yang Menolak Taman Dilan, Mahasiswi Ini Sebut Lebih Baik Bangun Fly Over ke Jatinangor

Ia juga menjelaskan Cagar Alam merupakan level tertinggi kawasan konservasi, memiliki fungsi ekologi yang kompleks.

"Kami menuntut agar SK tersebut agar dicabut," ujar Pepep DW, perwakilan pengunjuk rasa.


Cagar alam sebagai laboratorium alam menjadi habitat berbagai flora dan fauna, sehingga sebagai kawasan ekologi khusus, Cagar Alam fungsi utamanya berperan sebagai sebagai sistem penyangga kehidupan.

"Cagar Alam satu-satunya harapan dan benteng terakhir kelestarian alam secara ekologis, sebab ketika kawasan lain di luar Cagar Alam (seperti produksi dan lindung) memberikan toleransi pemanfaatan langsung, hanya Cagar Alam-lah yang secara formal dan fungsional menutup kemungkinan itu," ujar Pepep DW, perwakilan pengunjuk rasa

Penulis: Mega Nugraha
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved