Jembatan Penghubung Dua Desa di Tomo Sumedang Patah, Warga Harus Memutar Jauh

Jembatan yang menghubungkan Desa Darmawangi dengan Desa Jembarwangi, Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang patah

Jembatan Penghubung Dua Desa di Tomo Sumedang Patah, Warga Harus Memutar Jauh
istimewa
Jembatan yang menghubungkan Desa Darmawangi dengan Desa Jembarwangi, Kecamatan Tomo patah. Selain patah di bagian tengah, ujung jembatan juga ambles sedalam 1,5 meter karena abutmen terkikis Sungai Cisaar. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Deddi Rustandi

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Jembatan yang menghubungkan Desa Darmawangi dengan Desa Jembarwangi, Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang patah. Selain patah di bagian tengah, ujung jembatan juga ambles sedalam 1,5 meter karena abutmen terkikis Sungai Cisaar yang airnya selalu besar saat musim penghujan ini.

“Abutmen awal jembatan tergerus air sungai sehingga kondisi awal jembatan mengalami penurunan sampai 1,5 meter,” kata pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Sumedang, Bambang Rianto, Selasa (12/2/2019).

Menurutnya, jembatan dengan panjang 36 meter dan lebar 3,5 meter ini patah di badan jembatan pada pilar yang pertama, Senin (11/2/2019) siang. “Abutmen tergerus air sehingga ambles awal jembatan dan di bagian tengah badan jembatan pada pilar pertama ada patahan,” katanya.

Jembatan yang dibangun Pemerintah Desa Jembarwangi tahun 2003 dan merupakan daerah perbatasan dengan Darmawangi ini merupakan jembatan vital bagi warga desa. Bahkan warga Desa Cintajaya, Kecamatan Jatigede yang ingin ke Sumedang melintasi jembatan ini.

“Jembatan itu sangat vital dan menjadi akses ekonomi serta sekolah bagi warga Desa Cintajaya, Kecamatan Jatigede yang bersekolah ke Tomo,” kata Cahya, warga Desa Cintajaya, Selasa (12/2/2019).

Dinas PUPR melakukan langkah pengamanan darurat supaya jembatan dengan tiga abutmen dan dua pilar ini supaya aman dilalui kendaraan mobil dan motor.

Kasus Tabrak Lari di Jalan Tol Purbaleunyi, Polisi Selidiki Pelaku

“Untuk penanganan sementara dilakukan oprit atau urug tanah dengan cara pengupasan kurang lebih 1,5 meter sepanjang 50 meter sebelum kondisi awal jembatan agar kendaraan roda dua dan roda empat dapat kembali melintasi jembatan dengan aman,” kata Bambang.

Menurutnya, untuk penanganan jangka menengah sambil menunggu dapat teranggarkan oleh APBD , pihaknya akan membuat bronjong pengganti abutmen awal yang tergerus air sungai.


“Kami akan membuat abutmen awal yang tergerus air dengan teknik didongkrak dan diratakan kembali,” katanya.

Bambang menyebutkan pihaknya juga berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumedang.

“Amblesnya abutemen dan patahnya badan jembatan karena bencana alam dan kami meminta rekomendasi dari BPBD supaya penanganan jembatan mengunakan belanja tak terduga APBD,” katanya.

Penulis: Deddi Rustandi
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved