Cegah Kekerasan di Sekolah, Dedi Mulyadi Tawarkan Konsep Pendidikan Kultural

Menurut Dedi Mulyadi, metode pendidikan kultural dinilai lebih cocok diterapkan untuk mencegah kekerasan terhadap guru oleh murid.

Cegah Kekerasan di Sekolah, Dedi Mulyadi Tawarkan Konsep Pendidikan Kultural
istimewa
Dedi Mulyadi 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Haryanto

TRIBUNJABAR.ID, PURWAKARTA - Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi menyayangkan kejadian persekusi guru oleh murid di Gresik, Jawa Timur yang viral beberapa waktu lalu.

Menurut Dedi Mulyadi, metode pendidikan kultural dinilai lebih cocok diterapkan untuk mencegah kekerasan terhadap guru oleh murid.

"Jangan masuk filosofi berpikir orang barat, dalam kondisi aspek pendidikan kultural Indonesia sangat berbeda dengan cara pandang barat. Metodologi pendidikan kultural kita didasarkan pada cinta dan kasih sayang dari orangtua terhadap anaknya dan dari guru terhadap muridnya," ujar Dedi Mulyadi di Purwakarta. Selasa, (12/2/2019).

Saat masih menjabat sebagai Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi menerapkan pendidikan didasarkan pada cinta dan kasih sayang.

Dedi mencontohkan, membawa makanan bekal dari rumah ke sekolah. Selain itu membangun kekeluargaan yang erat antara para pelajar dan gurunya, pelajar yang bekalnya pas-pasan bisa saling berbagi dengan mereka yang berasal dari keluarga mampu.

"Makanan yang dimakan bersama teman-temannya dan gurunya itu akan menumbuhkan cinta dan kasih sayang di antara mereka," ujarnya.

Selain itu, lanjut Dedi, saat ini masyarakat sedang memasuki fase tidak bisa membedakan antara kekerasan dan kasih sayang yang dilakukan oleh guru.

"Kan beda antara kekerasan dan ketegasan guru. Contohnya gini deh, Dalam pertandingan sepakbola sangat berbeda antara bermain keras dan bermain kasar. Guru dan orangtua yang keras berbeda dengan guru dan orangtua yang kasar," ujar Dedi, yang Juga ketua Tim Kemenangan Jokowi-Ma'ruf Amin untuk Daerah Jawa Barat.

Manajer Persib Bujuk Ezechiel Tak Pulang Dulu ke Chad Meski Ibunya Meninggal, Dibutuhkan Lawan Arema

Kuatnya perlindungan negara terhadap anak-anak yang dimulai dengan Undang-Undang Perlindungan Anak sampai pembentukan Komisi Perlindungan Anak dari pusat sampai daerah pun tak pelak menjadi perhatiaanya.

Menurutnya Undang-Undang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Guru dan Dosen harus berjalan seiring sejalan dan saling melengkapi.


"Kedua Undang-Undang itu kan harus berjalan seiringan, saling melengkapi dan menguatkan, bukan bertentangan satu sama lain. Agar kasus kekerasan tidak terjadi lagi di dunia pendidikan," ujarnya.

Penulis: Haryanto
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved