Badan Tenaga Nuklir Nasional Kembangkan Penelitian Soal Penyebab Stunting

Badan Tenaga Nuklir Nasional ( Batan) turun tangan untuk meneliti penyebab stunting

Badan Tenaga Nuklir Nasional Kembangkan Penelitian Soal Penyebab Stunting
DOK.TRIBUN JABAR
Ilustrasi: Pegawai Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Bandung. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Kemal Setia Permana

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG- Banyaknya kasus stunting atau gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek dari standar usianya, membuat Badan Tenaga Nuklir Nasional ( Batan) turun tangan untuk meneliti penyebabnya.

Penelitian yang dilakukan adalah dengan cara melakukan uji mikro nutrisi dan lingkungan ke daerah yang mengalami kasus tersebut.

Plt Kepala Batan, Efrizon Umar mengatakan bahwa penelitian ini awalnya digagas oleh LIPI dan Kementerian Pertanian pada 2009.

"Ini merupakan program nasional, bagaimana masing-masing instansi mempunyai andil. Batan sendiri mempunyai andil dalam bentuk analisi mikro nutrisi dan lingkungan," kata Efrizon Umar saat menggelar diskusi dengan wartawan, di kawasan Cihapit, Bandung akhir pekan lalu.

Menurut Efrizon, dalam waktu dekat Batan akan melakukan diskusi kelompok terarah dengan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pertanian sebagai stakeholder utama terkait penelitian kekerdilan ini.

"Makanya dalam waktu dekat kami akan mengadakan focus discussion group dengan Kemenkes apa target utamanya dan kami akan bertanya bagaimana Batan akan berperan," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Pusat Sains Teknologi Nuklir Terapan (PSTNT) Batan, Jupiter Sitorus Pane, mengatakan bahwa penelitian yang akan dilakukan Batan akan fokus pada berbagai aspek. 

"Kami akan meneliti kekerdilan itu disebabkan oleh apa, karena genetik, karena faktor makanan yang masuk atau kurang gizi, dan mungkin juga termasuk faktor lingkungan.  Batan akan melihat dan mengamati dari mikronutrisida dan kondisi lingkungan di daerah-daerah yang mengalami kekerdilan," kata Jupiter.

Batan sendiri telah mengirimkan tim khusus ke Nusa Tenggara Timur untuk mengambil contoh makanan warga setempat.

Menurut dia, ada sekitar 400 contoh makanan yang dimakan warga di daerah NTT untuk diteliti lebih lanjut.

Dengan menggunakan teknologi analisis nuklir, kata Jupiter, penelitian ini akan bisa melihat unsur-unsur itu jauh lebih jauh dan detil dibanding dengan penelitian biasa.

"Teknologi analisis nuklir bisa melakukan jauh lebih detail sehingga ada unsur-unsur yang berpengaruh terhadap stunting yang semula tidak terlihat, bisa terlihat melalui analisis nuklir ini," katanya.

Hasil penelitian akan diserahkan dalam bentuk hipotesis.

Namun dia berharap bahwa target ini akan bisa tuntas secepat-cepatnya. 

Begini Reaksi KPU RI Terkait Ribuan Kotak Suara Rusak di Cirebon

Klik Link Live Streaming Persib Bandung Vs Persiwa Wamena, Bisa Ditonton Lewat HP

Penulis: Kemal Setia Permana
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved