Bencana Banjir Bandang di Cilengkrang, Bandung Dinilai Akibat Lemahnya Mitigasi dari Pemerintah

Hal ini dikemukakan oleh Ketua Pusat Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia ( FK3I) Dedi Kurniawan kepada Tribun Jabar.

Bencana Banjir Bandang di Cilengkrang, Bandung Dinilai Akibat Lemahnya Mitigasi dari Pemerintah
gani kurniawan/tribun jabar
Dampak banjir bandang di Komplek Jati Endah Regency RT 004/016 Dusun Pasir Jati, Desa Jatiendah, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung, Sabtu (9/2/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ery Chandra

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Terjadinya bencana banjir bandang akibat jebolnya tanggul aliran Sungai Cijambe di kompleks perumahan Jati Endah Regency, Kelurahan Jatiendah, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung, disebabkan oleh adanya pergeseran sedimentasi tanah dan fungsi daya serap air terganggu akibat alih fungsi lahan.

Hal ini dikemukakan oleh Ketua Pusat Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Dedi Kurniawan kepada Tribun Jabar.

Dampaknya, kata dia, ketika intensitas curah hujan tinggi, badan sungai tidak mampu menampung debit air, sehingga tanggul penahan air jebol yang kemudian mengakibatkan terjadinya bencana banjir.

"Ini hampir mirip dengan kejadian Cicaheum lalu. Yang di Cilengkrang bedanya ada korban jiwa," ujar Dedi, saat dihubungi Tribun Jabar via sambungan telepon, Minggu (10/2/2019).

Bupati Bandung Sebut Banjir Bandang Cilengkrang karena Pola Tanam Tidak Benar di KBU

Dedi menilai, bencana banjir yang disertai longsor di Bandung akibat lemahnya mitigasi bencana dari pemerintah.

Padahal, menurutnya BMKG telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem dan hujan lebat pada pukul 20.00 WIB.

"Proses dua jam itu harusnya bisa digunakan untuk meneruskan informasi itu pada aparat kewilayahan setempat dan warga, agar mempersiapkan dan siaga di jalur rawan tanggul jebol dan luapan air," kata Dedi.

Menurutnya, mengenai banjir bandang yang kerap terjadi, semestinya pemerintah melalui dinas terkait sudah bisa memprediksi dan mendata titik-titik rawan banjir bandang dan tanggul jebol.

"Setelah punya data bisa diantisipasi. Lalu punya teknologi pemantauan debit air. Sehingga tidak terulang kembali dan ada korban jiwa," ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, korban yang meninggal dunia dari peristiwa tersebut yakni, Firdasari (35), Hani Nurwijayani (25), dan Rauvan (1). Sedangkan korban luka, Kiki (12), Nisa (14), dan Ajay (45).

Penulis: Ery Chandra
Editor: Yongky Yulius
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved