Sempat Jadi Buah Bibir Tempat Pembuatan Senpi, Pengrajin Senapan Angin: Sejarah Memalukan Cipacing

Cipacing sejak puluhan tahun lalu dikenal sebagai sentra pengrajin senapan angin. Belakangan jadi buah bibir karena ada yang membuat senjata api.

Sempat Jadi Buah Bibir Tempat Pembuatan Senpi, Pengrajin Senapan Angin: Sejarah Memalukan Cipacing
Tribun Jabar/Hakim Baihaqi
Seorang pengrajin sedang membuat laras di bengkel produksi senapan angin di Desa Cipacing, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. 

Laporan wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Desa Cipacing di Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, sejak puluhan tahun lalu dikenal sebagai daerah penghasil senapan angin.

Berjarak sekitar satu kilometer dari Gerbang Tol Cileunyi, keberadaan Desa Cipacing, ditandai dengan adanya patung pria yang tengah membidik menggunakan senapan angin di samping gapura.

Hal tersebut menandakan Desa Cipacing merupakan sentra pembuatan senapan angin dan kerap didatangi oleh sejumlah pegiat olahraga menembak.

Namun belakangan ini, nama Desa Cipacing menjadi buah bibir di masyarakat luas, karena beberapa pengrajin membuat senjata api ilegal, kemudian memasarkan melalui situs jual beli.

Pada Maret 2018, kepolisian berhasil menggagalkan empat orang, dua orang di antaranya adalah, warga Desa Cipacing, yang hendak melakukan penjualan senjata ilegal.

Bengkel produksi senapan angin di Desa Cipacing, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang.
Bengkel produksi senapan angin di Desa Cipacing, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. (Tribun Jabar/Hakim Baihaqi)

Ketua Cipacing Hub kelompok pengrajin senapan angin, Hendrik Andiana, mengatakan, beberapa dari anggota kelompoka pengrajin senapan angin pernah mencoba memproduksi senjata api.

Ia menambahkan, awalnya semua pengrajin juga tidak memahami cara membuat senjata api, namun si pemesan mendesak dan diberikan contoh model senjata api agar dibuat menyerupai bentuk asli.

"Kegiatan yang dilakukan oleh anggota nakal hanya berorientasi pada keutungan besar, karena lebih mahal ketimbang senapan angin," kata Hendrik di Desa Cipacing, Kabupaten Sumedang, Jumat (1/2/2019).

Untuk mencegah kembalinya pengrajin membuat senjata api, secara rutin Hendrik rutin mengingatkan untuk tidak membuat senjata api.

Hendrik menambahkan, para pengrajin senapan angin yang merupakan penduduk asli merasa malu, lantaran Cipacing sempat dikenal sebagai daerah pemasok senjata bagi kelompok kriminal.

"Sejarah memalukan bagi Cipacing, jangan sampai terulang lagi, kami malu," kata Hendrik.

Salah seorang tokoh pengrajin senapan angin di Kabupaten Sumedang, Idih Sunaedi (76), mengatakan, adanya pengrajin yang memproduksi senapan api dianggap merugikan pengrajin senapan angin.

Ia menambahkan, dampak dari produksi senjata api membuat penjualan senapan angin menjadi turun, sehingga senapan angin hanya terpajang rapi di galeri.

"Sudahlah jangan buat senjata api, selain rugi sendiri, merugikan yang lain juga," katanya.

Penulis: Hakim Baihaqi
Editor: taufik ismail
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved