Kini Perajin Senapan Angin Mulai Merasakan Perhatian dari Pemerintah

Ketua Cipacing Hub kelompok perajin senapan angin, Hendrik Andriana, menyebut perhatian dari pemerintah memang tak terlalu besar tapi mulai dirasakan

Kini Perajin Senapan Angin Mulai Merasakan Perhatian dari Pemerintah
Tribun Jabar/Hakim Baihaqi
Seorang pengrajin sedang membuat laras di bengkel produksi senapan angin di Desa Cipacing, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG- Perajin senapan angin di Cipacing, Kecamaan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, mengaku, saat ini mendapatkan perhatian dari pemerintah untuk mengembangkan bisnis pembuatan senapan angin.

Perhatian dari pemerintah untuk para perajin senapan angin itu dalam bentuk pengelolaan wirausaha, strategi pemasaran, dan pengemasan layak jual.

Ketua Cipacing Hub kelompok perajin senapan angin, Hendrik Andriana, menyebut perhatian dari pemerintah memang tidak terlalu besar tapi mulai dirasakan para perajin.

"Berbeda dengan beberapa tahun lalu, perajin kesulitan dan hanya menunggu saja di tempat," kata Hendrik di Desa Cipacing, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jumat (1/2/2019).

Hendrik pun menambahkan, di beberapa jasa ekspedisi pengiriman paket di Kecamatan Jatinangor, sebagian pengguna jasanya adalah perajin senapan angin.

Menurut Polisi Perajin Senapan Angin di Cipacing Nekat Bikin Senjata Api karena Tergiur Uang Besar

Menjelang Pemilu, Polri Silaturahmi dengan Pengrajin Senapan Angin Cipacing, Rentan Dimanfaatkan

Ia menambahkan, ini menandakan para perajin tidak lagi menggunakan sistem jemput bola atau menunggu para peminat datang ke Cipacing.

"Semakin dikenal, menjadi kami lebih bersemangat membuat senapan angin," kata Hendrik.

Seorang tokoh perajin senapan angin di Kabupaten Sumedang, Idih Sunaedi (76), mengatakan, pemerintah harus segera membuat regulasi dari pemerintah membuka agen ekspor bagi produksi senapan angin Cipacing.

"Keunggulan senapan angin dari Sumedang itu masih dilakukan secara manual sejak 1960-an, harus dikenal terus," kata Idih Sunaedi.

Penulis: Hakim Baihaqi
Editor: Tarsisius Sutomonaio
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved