Banyak Kejahatan Seksual Terhadap Anak Berawal dari Perkenalan di Medsos, Ini Kata KPAID Tasikmalaya

Kepala KPAID Kabupaten Tasikmalaya, Ato Rinanto mengatakan, fenomena media sosial saat ini mewarnai pusaran lembah kekerasan terhadap anak.

Banyak Kejahatan Seksual Terhadap Anak Berawal dari Perkenalan di Medsos, Ini Kata KPAID Tasikmalaya
Pixabay.com
Ilustrasi media sosial. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Isep Heri

TRIBUNJABAR.ID, TASIKMALAYA - Pekan lalu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kabupaten Tasikmalaya melaporkan dua kasus perbuatan asusila yang melibatkan anak di bawah umur di dua lokasi yang berbeda.

KPAID  menerima dua pengaduan kasus asusila di Kecamatan Ciawi dan Salawu.

Korban perbuatan asusila di Kecamatan Salawu itu gadis berusia 15, sementara di Ciawi, yang menjadi korban merupakan gadis berusia 13 tahun.

Perbuatan asusila terhadap anak di bawah umur itu sama-sama bermula dari perkenalan di media sosial facebook.

Kasus di atas hanyalah satu di antara banyaknya kasus yang terjadi yang bermula dari perkenalan media sosial.

Kabupaten Tasikmalaya Dicap KPAID Tak Ramah Anak, Ini Alasannya

Mengenai itu, Kepala KPAID Kabupaten Tasikmalaya, Ato Rinanto mengatakan, fenomena media sosial saat ini mewarnai pusaran lembah kekerasan terhadap anak.

Menurutnya, fenomena semacam ini perlu dihadapi secara dewasa dan bijak, karena mau tidak mau perkembangan teknologi komunikasi tidak bisa dielakkan.

Ato memandang media sosial diibaratkan dua mata pisau, yang penggunaannya tergantung pada siapa dan untuk apa insrumen itu digunakan.

"Media sosial bisa positif bagi mereka yang benar-benar paham fungsi dari medsos itu, sebaliknya bisa jadi negatif jika pemahaman pengguna masih kurang," kata Ato kepada Tribun Jabar, Selasa (29/1/2019).

Awal Tahun 2019, KPAID Tasikmalaya Sudah Terima 8 Laporan Kasus Kekerasan Terhadap Anak

Di media sosial, anak-anak yang 'rapuh' bisa bertemu dan gampang ditemukan oleh mereka yang memang mencari mereka atau disebut predator.

Untuk menangkal anak-anak menjadi korban predator, Ato mengatakan, kuncinya kembali kepada orangtua atau keluarga.

"Pandangan kami, orangtua harus jadi idola anak-anaknya. Jadi, seberapa besar apapun pengaruh di luar termasuk medsos, anak akan selalu melibatkan anda sebagai orangtuanya," ujarnya.

Banyaknya kasus kekerasan seksual yang menyasar anak-anak, dinilai Ato, lantaran saat ini perkembangan teknologi informasi tidak dibarengi kecepatan orangtua dalam menyikapi realita.

"Orangtua kurang cepat mendidik anak sesuai jamannya, sehingga anak kehilangan sosok figur jadi mudah terpengaruh medsos. Sebenarnya keluarga yang bisa menangkal hal negatif pengaruh medsos," ujar Ato.

Penulis: Isep Heri Herdiansah
Editor: Yongky Yulius
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved