Soal Pembebasan Abu Bakar Baasyir, Dedi Mulyadi Sebut Ini Sikap Kemanusiaan Menghargai Orangtua

Keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyetujui pembebasan Abu Bakar Baasyir yang menghuni Lapas Gunungsindur

Soal Pembebasan Abu Bakar Baasyir, Dedi Mulyadi Sebut Ini Sikap Kemanusiaan Menghargai Orangtua
istimewa
Dedi Mulyadi 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Haryanto

TRIBUNJABAR.ID, PURWAKARTA - Keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyetujui pembebasan Abu Bakar Baasyir yang menghuni Lapas Gunungsindur, Kabupaten Bogor harus diapresiasi. Kebijakan tersebut diambil sebagai sikap kemanusiaan terhadap seseorang yang sudah renta dan sakit.

Ketua DPD Golkar Jabar, Dedi Mulyadi menilai apa yang dilakukan kepala negara terhadap narapidana kasus terorisme itu sangat bijak. Untuk itu, ia meminta kepada semua pihak agar bijak dan tidak melabeli keputusan ini oleh kepentingan politik.

"Kita niatkan saja, apa yang dilakukan Pak Jokowi kepada Pak Abu Bakar Baasyir adalah niat ikhlas. Jangan diembeli oleh sebuah kepentingan politik," kata Dedi Mulyadi di Purwakarta, Minggu (20/1/2019).

Menurut Dedi Mulyadi, keputusan ini merupakan angin segar yang patut disambut baik.

"Ini angin segar, seorang Presiden memberi apresiasi dan penghargaan kepada orangtua yang sedang sakit. Beliau (Abu Bakar Baasyir) nanti bisa istirahat di rumah bersama keluarga. Sikap kemanusiaan ini patut mendapat penghormatan dari semua pihak tanpa melihat aspek kasusnya," kata Dedi Mulyadi.

Ia menyadari bahwa di tahun politik ini, kebijakan tersebut bisa memancing polemik. Terlebih, Jokowi kerap diserang dan dicitrakan dengan kasus kriminalisasi ulama.

Edy Rahmayadi Mundur, Joko Driyono jadi Plt Ketua Umum PSSI, Reaksi Negatif Pun Bermunculan

"Kalau bicara stigma yang dibangun itu kan Jokowi mengkriminalisasi ulama. Nah, pertanyaannya, ulama yang mana yang dikriminalisasi. Pak Abu Bakar Baasyir inj diproses hukum saat zaman SBY (Susilo Bambang Yudhoyono). Tapi Pak SBY tidak dikasih stigma kriminalisasi ulama," kata Dedi Mulyadi.

Dengan kata lain, lanjut Dedi Mulyadi, kriminalisasi ulama itu adalah sebuah stigma politik. Jika terus dibiarkan, maka tidak akan baik sekaligus berdampak buruk terhadap citra Islam itu sendiri.

"Kalau namanya ulama ya ulamanya agama. Pilihan politik adalah hal yang berbeda," katanya.

Zalnando Pakai Nomor Punggung 17 di Persib Bandung, Begini Filosopinya

Diberitakan sebelumnya, Presiden Jokowi menyetujui Abu Bakar Baasyir dibebaskan dari lembaga pemsyarakatan dengan alasan kemanusiaan.

"Ya yang pertama memang alasan kemanusiaan. Artinya beliau kan sudah sepuh, ya pertimbangannya kemanusiaan. Di Lapas juga sakit-sakitan," kata Jokowi di Ponpes Darul Arqam, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Kamis (18/1/2019).

Jokowi menjelaskan, sebetulnya wacana pembebasan Baasyir sudah sangat lama. Dia mengakui salah satu juru runding pembebasan ini adalah Yusril Ihza Mahendra.

"Ini pertimbangan yang panjang. Pertimbangan dari sisi keamanan dengan Kapolri, dengan pakar, terakhir dengan Pak Yusril. Tapi prosesnya nanti dengan Kapolri. Nanti yang lebih detail tanyakan ke Kapolri," kata Jokowi.

Penulis: Haryanto
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved