Pemasangan Foto Gatot Nurmantyo Tak Izin, Pengamat Politik Sebut Blunder Prabowo-Sandi

Hal itu blunder menjadi ketidakpercayaan publik terhadap pasangan Prabowo-Sandi. Karena political campaign memunculkan figur tertentu tapi dibantah.

Pemasangan Foto Gatot Nurmantyo Tak Izin, Pengamat Politik Sebut Blunder Prabowo-Sandi
Istimewa.
Tangkapan layar Instagram Gatot Nurmantyo. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ery Chandra

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG- Pengamat politik menilai bahwa etika kampanye yang memunculkan figur mantan panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, tanpa meminta izin terlebih dahulu merupakan bagian dari "Political Campaign".

Hal tersebut dalam rangka menanggapi isu beberapa waktu lalu Gatot Nurmantyo merasa keberatan dengan munculnya sebuah foto dirinya di atas spanduk Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di posko BPN Solo, Jawa Tengah.

Pengamat Politik Universitas Komputer Indonesia (Unikom), Adiyana Slamet mengatakan semestinya secara etika meminta izin terlebih dulu kepada Gatot Nurmantyo.

Seperti halnya, yang disampaikannya melalui akun media sosial Gatot Nurmantyo.

"Hal itu blunder menjadi ketidakpercayaan publik terhadap pasangan Prabowo-Sandi. Karena political campaign (Pilpres 2019) memunculkan figur-figur tertentu tapi dibantah," ujar Adiyana Slamet, saat dihubungi Tribun Jabar, melalui ponselnya, di Kota Bandung, Senin (14/1/2019).

Bupati Sragen Angkat Bicara Soal Pidato Kebangsaan Prabowo Subianto yang Singgung Krisis Air Bersih

Mahfud MD Beri Jawaban Sangat Jujur Saat Ditanya Komentarnya Soal Pidato Prabowo yang Berapi-api

Adiyana mengatakan kelemahan kampanye yang dilakukan oleh tim Prabowo-Sandi adalah dalam hal pemasangan foto spanduk untuk Pilpres 2019 lebih memunculkan figur-figur tertentu.

"Seharusnya dari pada memasang foto figur lebih baik memasang misalkan garis besar apa-apa saja yang akan dilakukan. Walaupun dijelaskan nanti," kata Adiyana.

Menurut Direktur Lingkar Kajian Komunikasi Politik (LKPP) itu, kampanye yang dilakukan dengan cara tersebut merupakan kultur yang tidak mencerahkan dari sisi politik. Yakni demi meyakinkan publik. Pasalnya, yang disentuh hanyalah secara psikologis dan antropologi.

"Bukan rasional apa keunggulan Prabowo-Sandi ini. Harusnya keungulan program-program yang berbeda dengan ketahanan," ujarnya.

Penulis: Ery Chandra
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved