Musim Hujan di Bandung Raya Berlangsung hingga Mei, BMKG Imbau Masyarakat Waspada Cuaca Ekstrem

Bandung Raya sering diguyur hujat lebat disertai angin kencang dalam beberapa hari terakhir.

Musim Hujan di Bandung Raya Berlangsung hingga Mei, BMKG Imbau Masyarakat Waspada Cuaca Ekstrem
TRIBUN JABAR/MUMU MUJAHIDIN
Kondisi banjir di kawasan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Senin (14/1/2019). Tiga kecamatan di Kabupaten Bandung kembali terendam banjir setelah hujan deras mengguyur kawasan Bandung Raya pada Minggu (13/1/2019) siang hingga malam. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Theofilus Richard

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Bandung Raya sering diguyur hujat lebat disertai angin kencang dalam beberapa hari terakhir.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Bandung, Tony Agus Wijaya, mengatakan bahwa saat ini Bandung Raya memang berada pada musim hujan.

"Bandung Raya masih mengalami musim hujan sampai awal Mei 2019. Masih ada potensi cuaca ekstrem berupa angin kencang, petir, hujan lebat," ujarnya ketika dihubungi Tribun Jabar, Senin (14/1/2019).

Tony juga mengatakan bahwa pada pekan sebelumnya, cuaca Bandung cukup cerah.

Hal ini tidak lepas dari kondisi cuaca di Thailand yang sempat diterpa Badai Pabuk, sehingga Bandung Raya mengalami jeda hujan.

"Pertengahan minggu lalu, Badai di Thailand sudah punah, sehingga mulai ada di hujan di Bandung," ujarnya.

BMKG: Hujan Disertai Petir dan Angin Kencang Masih Berpotensi Terjadi di Bandung Raya hingga Mei

Hujan yang terjadi setelah jeda hujan, kata Tony, tidak lepas dari peran awan cumulonimbus yang menyebabkan angin kencang.

Ia juga mengatakan bahwa tidak semua awam cumulonimbus menyebabkan cuaca ekstrem.

Faktor suhu udara di sebuah daerah juga mempengaruhi terjadinya cuaca ekstrem atau tidak.

Suhu udara di negara tropis semisal Indonesia berbeda dengan suhu udara di negara sub tropis semisal Kanada, yang jauh dari garis khatulistiwa.

"Cuaca tropis lebih mudah berubah tiap menitnya, lebih beragam di tiap lokasi yang berdekatan. Itu adalah kondisi alam ciptaan Tuhan yang tidak bisa diubah," ujarnya.

Meski cuaca ekstrem tidak bisa dihindari, dampaknya bisa dikurangi dengan berbagai langkah antisipasi.

Di antaranya dengan memperkuat atap rumah yang rawan tertiup angin dan memangkas pohon.

Penulis: Theofilus Richard
Editor: Yongky Yulius
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved