Menanti Kebangkitan Gerabah dari Desa Sitiwinangun, Sempat Terpuruk Kini Mulai Menggeliat

Pemkab Cirebon ingin industri gerabah di Desa Sitiwinangun kembali menggeliat.

Menanti Kebangkitan Gerabah dari Desa Sitiwinangun, Sempat Terpuruk Kini Mulai Menggeliat
Tribun Jabar/Siti Masithoh
Penjabat Bupati Cirebon Dicky Saromi saat berkunjung ke sentra gerabah di Desa Sitiwinangun, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon, Senin (14/1/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Siti Masithoh

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Dalam kunjungan ke Desa Sitiwinangun, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon, Pemkab Cirebon ingin mengembangkan pariwisata.

Bermula dari sentra gerabah di Cirebon ini, Pemkab Cirebon ingin mengembangkan berbagai produk unik dari gerabah.

"Ini adalah kunjungan saya untuk melihat beberapa desa yang sudah mempunyai produk yang unik. Sebagaimana di Jawa Barat sedang menggelorakan one village one product," ujar Penjabat Bupati Cirebon Dicky Saromi saat ditemui di Desa Sitiwinangun, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon, Senin (14/1/2019).

Melalui pariwisata Dicky Saromi yakin banyak keuntungan yang dapat diraih oleh pemerintah setempat.

"Jamblang ini selain mempunyai keunikan gerabah, juga ada branded nama Nasi Jamblang. Ini sudah memperkaya sisi atraksi. Jadi satu hal dari sisi atraksi sudah dimiliki oleh kecamatan ini," kata Dicky Saromi.

Pada tahun 1970, gerabah di Desa Sitiwinangun mengalami puncak kejayaan.

Saat itu, mayoritas warganya yang berprofesi sebagai perajin memasok gerabah ke berbagai kota di Indonesia.

Pejabat Pemkab Cirebon saat berkunjung ke sentra gerabah di Desa Sitiwinangun, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon, Senin (14/1/2019).
Pejabat Pemkab Cirebon saat berkunjung ke sentra gerabah di Desa Sitiwinangun, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon, Senin (14/1/2019). (Tribun Jabar/Siti Masithoh)

Soal kualitas, tak perlu ditanya, gerabah dari desa ini terkenal sangat kuat dan elok.

Seiring berjalannya waktu, sekitar tahun 2000, gerabah di Desa Sitiwinangun mengalami penyusutan penjualan.

Keadaan tersebut memaksa sebagian perajin berhenti membuat gerabah. Saat itu banyak yang menjadi pengangguran karena tidak adanya pesanan.

Setelah dilakukan pendataan oleh pihak desa, Tahun 2009 tersisa 30 perajin saja.

Saat ini perajin gerabah meningkat menjadi sekitar 100 perajin yang juga terdiri dari kalangan muda.

"Anak muda akan semangat bilamana desa ini hidup menjadi tujuan wisata dan proses kunjungan itu akan meningkat dari waktu ke waktu," kata Dicky Saromi.

Ia meyakini jika sudah ramai dikunjungi wisatawan, anak muda akan menjadi bagian dari proses pembuatan produk kreatif.

ELING, Platform Belajar Bahasa Inggris Buatan Warga Cirebon

22 Makam Tertimbun Longsor, Satu Jenazah Sempat Terseret Hingga Masuk ke Sungai

Penulis: Siti Masithoh
Editor: taufik ismail
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved