Dulu Rotan Buatannya Diminati Warga Belanda, Setelah Bahan Baku Rotan Diekspor Usahanya Mulai Lesu

Dulu rotan buatannya diminati warga Belanda, setelah rotan diekspor usahanya mulai lesu.

Dulu Rotan Buatannya Diminati Warga Belanda, Setelah Bahan Baku Rotan Diekspor Usahanya Mulai Lesu
tribunjabar/syarif pulloh anwari
Pengusaha kerajinan rotan di Kota Bandung, Adang (50) sedang memperbaiki kursi berbahan rotan di tokonya yang berlokasi di Jalan Jalan Setiabudi, No 108, Kota Bandung, Sabtu (12/1/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Syarif Pulloh Anwari

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Era teknologi yang semakin canggih tak membuat perajin rotan dilupakan dan meninggalkan usahanya tersebut.

Hal tersebut dibuktikan Adang (50) pengrajin rotan di Kota Bandung yang masih bertahan dan memproduksi kerajinan rotan.

Terlihat di tokonya yang berukuran 4x10 meter masih terpampang ratusan kerajinan rotan karyanya.

Adang mengaku sudah menekuni usaha rotan hampir 25 tahun.

"Saya dari kecil menekuni usaha rotan ini, tahun 90-an di toko ini, tepatnya 94 lah. Belajar membuat dan bisa merangkai rotan menjadi sesuatu karya kursi ini setelah lima tahunan," ujar Adang saat ditemui Tribun Jabar di tokonya, di Jalan Setiabudi, Kota Bandung, Sabtu (12/1/2019).

Adang menceritakan hasil kerajinan rotan yang dibuatnya itu pernah diminati warga Belanda.

"Dulu kerajinan saya, pernah ke Belanda, ke luar kota juga pernah Bali, Jakarta, Karawang," ujarnya.

Pengrajin rotan di Jalan Setiabudi, Adang.
Pengrajin rotan di Jalan Setiabudi, Adang. (Tribun Jabar/Syarif Pulloh Anwari)

Ia menambahkan, usaha yang dirintisnya itu mengalami penurunan lantaran bahan baku rotan mulai diekspor ke luar negeri.

"Mulai sepi, mungkin rotan sekarang mulai diekspor. Sekarang bahan baku boleh diekspor. Ya, orang-orang di sana mungkin mulai jualan kayak gini, bikin di sana, bikin yang lebih canggih di sana. Soalnya di sana, kan, enggak punya rotan, cuma di Indonesia," ujarnya.

Meski usahanya sepi, Adang tetap memproduksi berbagai kerajinan tangan, semisal kursi, meja, keranjang, kap lampu, mainan anak anak, penyekat ruangan, hingga alat-alat rumah tangga.

Adang berharap kepada pemerintah bisa menurunkan bahan baku rotan yang sekarang harganya semakin mahal dan menghentikan ekspor bahan baku rotan ke luar negeri.

"Sekarang harga bahan baku rotan Rp 15 ribu per kilogram, dulu hanya Rp 3 ribu per kilogramnya. Dan berharap pemerintah jangan ekspor bahan baku rotan. Biar pengusaha pengrajin rotan maju lagi," ujarnya.

Di Tangan Adang, Rotan jadi Barang Bernilai Guna, tapi Kini Usahanya Semakin Menurun

Penulis: Syarif Pulloh Anwari
Editor: taufik ismail
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved