Rencana Reaktivasi Jalur KA Banjar-Pangandaran, Bisa Bikin Ratusan Warga Kehilangan Tempat Usaha

Dari ratusan bangunan yang berdiri di jalur rel KA nonaktif Banjar-Pangandaran di sekitar bekas Stasiun Banjarsari, sebagian besar

Rencana Reaktivasi Jalur KA Banjar-Pangandaran, Bisa Bikin Ratusan Warga Kehilangan Tempat Usaha
Tribun Jabar/Andri M Dani
KA Pangandaran di Stasiun Banjar saat akan diluncurkan. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Andri M Dani

TRIBUNJABAR.ID, CIAMIS – Dari ratusan bangunan yang berdiri di jalur rel KA nonaktif Banjar-Pangandaran di sekitar bekas Stasiun Banjarsari, sebagian besar merupakan tempat usaha, baik itu berupa warung, toko, bengkel, maupun rumah makan. Tempat usaha lebih banyak dari tempat tinggal.

“Dari tempat bengkel saya sampai ke bekas stasiun (Banjarsari) lebih dari seratus tempat usaha. Apalagi sampai blok pasar, jumlahnya bisa sampai tiga kali lipat. Bila jalur rel di sekitar Stasiun Banjarsari, ada ratusan tempat usaha yang bakal diruntuhkan,” ujar Asep Davi (45), pemilik bengkel di Blok Sindangjaya Desa Banjarsari kepada Tribun Jumat (11/1/2019) .

Bengkel yang dikelola Asep Davi tersebut berada persis di sisi jalur rel KA Banjar-Pangandaran  sisi jalan raya Banjar-Pangandaran. Bangunan bengkel sekaligus tempat penjualan spare partnya tersebut berdiri di atas lahan seluas sekitar 15 tumbak milik PT KAI. “Bangunan bengkel ini sudah 20 tahun berdiri, setiap tahun sewanya Rp 3 juta. Selain sewa ke PT KAI kami juga membayar retribusi ke desa ,” katanya.

Bila jalur rel KA Banjar-Pangandaran kembali diaktifkan bagian belakang bangunan bengkelnya kan terbabat habis sekitar 2 sampai 3 meter.

“Bengkel saya hanya bagian belakangnya yang langsung kena jalur rel. Di sekitar jalur ini banyak yang kondisinya seperti bengkel saya.  Bahkan ada  tempat usaha warga lainnya yang berada persis di atas bekas rel yang dekat sisi jalan menuju balai desa,” jelas Asep Davi.

Pekan Depan, Pemkot Bandung Terapkan Rekayasa Arus Lalin di Jalan Terusan Jakarta & Jalan Sukajadi

Meski rencana reaktivasi jalur KA Banjar-Pangandaran kembali ramai dibicarakan menyusul launching KA Pangandaran Rabu (2/1/2019) lalu.

“Kami tahunya dari berita, dari TV, dari Koran juga dari internet. Tapi sampai sekarang belum ada sosialisasi langsung, dari pihak berwewenang, termasuk dari PT KAI sendiri. Belum ada pengumuman atau surat edaran yang kami terima. Jadi kami belum tahu kepastian rencana mengaktifan kembali rel Banjar-Pangadaran tersebut, jadi atau hanya sekadar rencana,” katanya.

Bila hanya sekedar rencana  atau wacana menurut Asep Davi sebaiknya rencana tersebut dikaji ulang kembali. Mengingat transportasi  angkutan darat baik angkutan penumpang umum maupun kendaraan pribadi masih cukup untuk moda transporasi wisatawan dari dan ke Pangandaran.


“Sepertinya moda kereta api belum mendesak, transportasi untuk wisatawan saya kira masih cukup tercover oleh angkutan umum seperti bus,” katanya.

Dan bila rencana reaktivasi jalur rel KA Banjar-Pangandaran pasti dilaksanakan menurut Asep Davi pihaknya tidak dalam posisi setuju atau tidak setuju.

“Kami hanya menyewa lahan PT KAI. Kalau PT KAI akan menggunakannya tentu sewanya akan berakhir. Selanjutnya tentu kami akan kehilangan tempat usaha. Mudah-mudahan nanti ada kompensasinya,” harap Asep Davi.

Asep Davi berharap rencana reaktivasi jalur rel Banjar-Pangandaran tersebut tak hanya demi Pangandaran, tetapi juga demi masyarakat yang tinggal  dan yang berusaha di sekitar jalur rel yang sudah non aktif sejak tahun 1982 tersebut.

Penulis: Andri M Dani
Editor: Ichsan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved