Kembalikan Fungsi Hulu Citarum Harum, Dansektor Pembibitan: Masyarakat Masih Bisa Tanam Sayur

Kembalikan Fungsi Hulu Citarum Harum, Dansektor Pembibitan: Masyarakat Masih Bisa Tanam Sayur

Kembalikan Fungsi Hulu Citarum Harum, Dansektor Pembibitan: Masyarakat Masih Bisa Tanam Sayur
Tribun Jabar/Hakim Baihaqi
Komandan Sektor Pembibitan wilayah hulu DAS Citarum, Letkol INF Choirul Anam, menyebutkan 95 persen warga di Kecamatan Kertasari adalah petani, beberapa di antaranya masih sulit beralih komoditas. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG- Komandan Sektor Pembibitan wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, Letkol INF Choirul Anam, menyebutkan 95 persen masyarakat di Kecamatan Kertasari adalah petani, beberapa di antaranya masih sulit beralih komoditas.

Ribuan hektare di beberapa desa Kecamatan Kertasari, yakni Desa Cibeureum, Desa Tarumajaya, Cihawuk, Neglawangi, Cikembang, dan Sukapura, berubah menjadi lahan pertanian sejak beberapa tahun terakhir.

Lahan pertanian tersebut ditanami oleh sejumlah komoditas, di antaranya kentang, bawang daun, bawang merah, kubis, seledri, cabai, dan wortel.

Sebelum mengalami alih fungsi lahan, ratusan lahan itu adalah beberapa jenis tanaman keras yang berfungsi meresap air dan menahan arus ke wilayah hilir Sungai Citarum.

Choirul mengatakan, masih adanya yang enggan untuk beralih ke tanaman keras, Satgas Citarum Harum berupaya mengawal ekstra kepada para petani tersebut, agar tergerak sama-sama mengembalikan fungsi hulu Sungai Citarum.

Menteri Pertanian Bagikan 1 Juta Bibit Tanaman Kopi kepada Petani di Hulu Sungai Citarum

Wagub Jabar Dampingi Menteri Pertanian Tinjau DAS Citarum, Berikut Agenda Selengkapnya

"Mereka masih akan tetap menanam sayur namun dengan cara tumpang sari, tumpang sari ini tiga dibanding satu, satu meter untuk tanaman tegakan (buah dan kayu) tegakan, tiga meter untuk sayuran oleh penggarap," kata Choirul, Kamis (10/1/2019).

Ia menambahkan, Sektor Pembibitan Wilayah DAS Citarum, sudah memasuki tahap penanaman. Tiap 10 hektare ditempati oleh 1 kelompok tani hutan atau membawahi 10 penggarap, dan dua orang Satgas Citarum Harum.

Dua belas orang yang berada di setiap 10 hektare lahan akan melakukan rencana penanaman, pengambilan bibit, penanaman, hinggga pengawasan.

"Supaya upaya penghijaun ini berjalan dengan baik. Dari total 8.000 hektare lahan kritis di Kertasari, 30 persen sudah ditamani tanaman keras sebanyak 60 juta bibit," katanya.


Komandan Sektor 1 Citarum Harum Situ Cisanti, Kolonel Inf Inget Barus, menyebutkan, salah satu penyebab banjir parah yang akibat meluapnya Sungai Citarum ini, karena terjadinya kerusakan hebat di wilayah hulu.

"Banjir di Baleendah, Rancaekek, dan Dayeuhkolot. Penyebab banjit pun terjadi karena adanya alih fungsi wilayah hulu," kata Barus beberapa waktu lalu.

Program Citarum Harum di wilayah hulu adalah, menyadarkan kepada seluruh masyarakat agar tersadar bila mempertahankan komoditas sayur adalah bencana bagi orang lain.

"Merubah pemikiran petani untuk beralih itu sulit, perlu waktu dan pendekatan juga," katanya.

Penulis: Hakim Baihaqi
Editor: Tarsisius Sutomonaio
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved