Sejumlah Wilayah di Kabupaten Tasikmalaya Terkategori Berpotensi Tinggi Longsor

Dari 33 Kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya yang tergolong rawan longsor, 2 Kecamatan di antaranya masuk kategori berpotensi tinggi.

Sejumlah Wilayah di Kabupaten Tasikmalaya Terkategori Berpotensi Tinggi Longsor
MUMU MUJAHIDIN
Ilustrasi Tanah Longsor 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Isep Heri

TRIBUNJABAR.ID, TASIKMALAYA - Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Tasikmalaya, 33 kecamatan dari 39 kecamatan yang ada, tergolong rawan bencana pergeseran tanah atau longsor.

Dari 33 Kecamatan yang tergolong rawan longsor, 2 Kecamatan di antaranya masuk kategori berpotensi tinggi.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (Darlog) Ria Supriatna mengatakan, dua kecamatan yang terkategori tinggi rawan longsor di antaranya Kecamatan Salawu dan Kecamatan Puspahiang.


Dikatakannya, kategori kerawanan itu, merupakan hasil dari pengamatan dan penelitian bersama Pusat vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.

"Kami berkordinasi dengan Badan Geologi. Wilayah yang mempunyai kerawanan tinggi itu Salawu dan Puspahiang. Kami sudah lakukan kajian, ada disana wilayah yang sangat rawan dan tidak layak untuk ditempati," kata Ria melalui sambungan telepon, Kamis (10/1/2019).

Sejauh ini, pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang tinggal di wilayah yang memiliki kerawanan longsor yang tinggi tersebut.

Sejak 1998, Surabi Imut Eksis Berjualan Hingga Kini dengan 45 Varian Surabinya, Yuk Coba!

Sosialisasi yang dilakukan kepada masyarakat di antaranya dengan mengimbau untuk menanam pepohonan yang akarnya kuat di area persawahan maupun di kolam ikan untuk meminimalisir pergerakan tanah yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

"Untuk meminimalisir kami sosialisasikan mengganti yang berkaitan dengan air dengan yang kering kering. Kolam harus berganti dengan kebun dan ditanami pohon. Dilapangan sosialisasi dan imbauan itu ada yang sudah dilaksanakan ada yang belum," lanjutnya.

Ria menyebut, relokasi bisa saja dilakukan akan tetapi sukar dijalankan.

Pasalnya, menurut dia, harus diperhatikan segala aspeknya, di antaranya segi ekonomi, kesiapan anggaran pemerintah daerah, kesiapan masyarakat dan berbagai aspek lainnya.

Dia menambahkan, pihaknya tidak bisa memaksa masyarakat untuk pindah.

"Tapi kami sudah mengimbau, jika terjadi retakan segera tutup kembali retakan itu dengan tanah. Kalau hujan mengguyur lebih dari 3 jam segera untuk meninggalkan pemukiman," tambah Ria Supriana.

Kisah Bu Dendy yang Sempat Jatuh Miskin, Kerja Keras hingga Pernah Biayai Istri Pertama Pak Dendy

Penulis: Isep Heri Herdiansah
Editor: Seli Andina Miranti
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved