Kehidupan

Kisah Ibu-ibu Perajin Bata Merah di Nagreg, Kerja dari Pagi, Sebulan Hanya Dapat Rp 450 Ribu

Menengok perajin batu bata di Kampung Kendan, Desa Nagreg Kendan, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung.

Kisah Ibu-ibu Perajin Bata Merah di Nagreg, Kerja dari Pagi, Sebulan Hanya Dapat Rp 450 Ribu
Tribun Jabar/Hakim Baihaqi
Perajin batu bata di Kampung Kendan, Desa Nagreg Kendan, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung. 

Laporan wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Terik matahari yang menyinari ujung timur Bandung, menemani aktivitas sejumlah warga di Kampung Kendan, Desa Nagreg Kendan, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung.

Di kampung yang berada di antara perbukitan antara perbatasan Kabupaten Bandung dengan Kabupaten Garut ini, berdiri sejumlah bangunan bilik kayu tempatan pembuatan salah satu bahan bangunan, yaitu batu bata merah.

Di dalam bilik kayu tersebut, ribuan batu bata merah disusun rapi menyerupai sebuah bangunan candi.

Saat mencoba mendekat, di balik susunan batu bata merah, sejumlah perempuan tengah membawa segumpal tanah berwarna cokelat dari kaki bukit.

Perajin batu bata di Kampung Kendan, Desa Nagreg Kendan, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung.
Perajin batu bata di Kampung Kendan, Desa Nagreg Kendan, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung. (Tribun Jabar/Hakim Baihaqi)

Setelah gumpalan tanah tersebut diambil lokasi galian kaki bukit, dengan cekatan, perempuan-perempuan itu lantas memisahkan tanah itu dari batu kerikil, sebelum dilakukannya pencetakan secara tradisional menggunakan cetakan berbahan logam berukuran 10 x 20 sentimeter.

Hampir sebagian besar lokasi tempat pencetakan batu bata merah di Kampung Kendan ini, pekerjanya adalah seorang kaum ibu dan telah menekuni profesi perajin batu bata merah sejak masih gadis hingga berkeluarga.

Seorang perajin batu bata merah, Ika (43), ibu dari empat orang anak ini, setiap hari saat matahari dari ufuk timur mulai meninggi kira-kira pukul 07.00 WIB, sudah bersiap berangkat dari rumahnya menuju lokasi pembuatan batu bata merah di sekitar jalan desa.

Percaya Rezeki Ada yang Mengatur, di Usia Senjanya Sulaeman Tetap Setia Membuat Bata Merah

Sesampainya di lokasi, tak perlu berlama-lama, gumpalan tanah yang sebelumnya telah dikumpulkan itu, satu persatu dicetak lalu ditumpuk di tepi bilik kayu.

"Lebih dari 10 tahun jadi pencetak batu bata merah, datang ke lokasi langsung saja karena tahu apa yang harus dikerjakan," ujar Ika saat mencetak batu bata merah, Kamis (3/1/2019).

Halaman
12
Penulis: Hakim Baihaqi
Editor: Yongky Yulius
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved