Agus Kenang Percakapan Terakhir dengan Suaminya: Tidak Berani Macam-macam Bisa Berujung Penumpasan

Agus masih ingat percakapannya terakhir dengan sang suami yang tewas dibunuh kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua.

Agus Kenang Percakapan Terakhir dengan Suaminya: Tidak Berani Macam-macam Bisa Berujung Penumpasan
jhon purba/kompas/ist
Sembilan jenazah pekerja jembatan di Nduga Papua yang berhasil diidentifikasi tim DVI Polri akan diserahkan PT Istaka Karya ke keluarga, Jumat (7/12/2018). 

TRIBUNJABAR.ID - Suasana duka menyelimuti Agus Rudia Pasa, yang suaminya Samuel Pakiding menjadi korban pembunuhan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Kabupaten Nduga, Papua.

Saat ditemui di rumah duka, di Jalan Tengko Situru, Bukit Sion, Jahab, Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Sabtu (8/12/2018), Agus masih ingat betul komunikasi terakhir dengan suaminya.

Agus mengatakan, selama ini ia dan suaminya, Samuel, hanya bisa berkomunikasi lewat ponsel beberapa kali. Di lokasi tempat Samuel bekerja tidak ada sinyal dan sulit dijangkau kendaraan.

“Dia berangkat ke Papua tanggal 13 Oktober. Tanggal 14 November komunikasi terakhir, karena dia turun ke Timika. Dia bercerita, dia sangat hati-hati di sana. Dia tidak berani macam-macam karena jika ada masalah walau sepele akan berujung penumpasan,” ujarnya.

Saat itu, firasat Agus sudah tidak enak. Dia sempat melarang Samuel untuk pergi naik gunung ke lokasi kerjanya di Nduga. Agus memaksa Samuel untuk menetap di Timika dan mencari pekerjaan lain.

Korban Selamat Penyerbuan Kelompok Bersenjata di Papua Asal Garut Dipulangkan Hari Ini

Irawan Maulana, Warga Garut Lolos dari Maut Saat Penembakan KKB di Papua, Begini Penuturan Keluarga

Namun Samuel menolak. Samuel beralasan, tidak enak meninggalkan bos dan rekan-rekannya yang sama-sama bekerja di PT Istaka Karya.

“Terakhir telepon itu dia bilang ditawari kerja borongan membangun sekolah di Timika, saya setuju sekali. Saya bilang tidak usah naik ke Nduga lagi, kerja saja bangun sekolah. Tapi dia bilang tidak enak meninggalkan teman-temannya. Jadi dia naik lagi dan meneruskan pekerjaan bersama PT Istaka Karya,” ucapnya.

Tidak disangka, percakapan itu adalah percakapan terakhir antara Agus dan Samuel. Senin (3/12/2018) Agus mendapat kabar penembakan 31 pekerja PT Istaka Karya di Nduga, Papua, oleh kelompok sparatis.

Dia tidak percaya, dan terus meyakini suaminya masih hidup. Bersama anak-anak dan keluarga lainnya, Agus terus berdoa untuk keselamatan Samuel. Nahas, beberapa hari setelah itu, kabar kematian Samuel sampai ke telinganya.

“Hati saya hancur, waktu mendengar kabar penembakan itu. Saya bingung harus menghubungi siapa. Saya tidak tahu lagi, berhari-hari saya nantikan kabar keselamatannya. Waktu bosnya telepon pada hari Rabu, kaki saya seperti sudah melayang,” ujarnya.

Harapan Agus agar Samuel bisa ikut berkumpul merayakan Natal bersama di Jahab, seketika sirna. Kenangan hidup bersama Samuel menjadi tangis pilu seluruh keluarga.

Agus belum memastikan kapan Samuel akan dikebumikan. Agus masih menunggu kedatangan keluarga besar Samuel dari Tana Toraja. Rencananya, setelah kumpul dan rapat keluarga, barulah Samuel dapat dikuburkan dengan prosesi adat Toraja.

“Belum tahu kapan dikuburkan, karena keluarga di Toraja masih dalam perjalanan. Nanti malam, baru akan kami pindahkan almarhum ke peti yang kami siapkan,” sebutnya.

Samuel meninggalkan empat anak. Anak pertama berusia 17 tahun dan masih duduk di bangku SMP, sementara yang paling kecil masih balita berusia tiga tahun. Kepergiannya ke Nduga belum genap dua bulan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Percakapan Terakhir Istri dengan Suaminya yang Tewas Dibantai di Nduga Papua".

Editor: taufik ismail
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved