Mang Yunus Selama 38 Tahun Hidupi Keluarga dengan Membuat Stempel dan Pelat Nomor Kendaraan

Teten Kanigara (60) atau karib disapa Mang Yunus selama 38 tahun, mampu menghidupi istri dan ketiga anaknya dari usaha jasa pembuatan pelat nomor

Mang Yunus Selama 38 Tahun Hidupi Keluarga dengan Membuat Stempel dan Pelat Nomor Kendaraan
Tribunjabar/Ery Chandra
Teten Kanigara (60) atau karib disapa Mang Yunus, saat berada digerobak biru usahanya, di Jalan Naripan, Kota Bandung, Jumat (7/12/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ery Chandra

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Teten Kanigara (60) atau karib disapa Mang Yunus selama 38 tahun, mampu menghidupi istri dan ketiga anaknya dari usaha jasa pembuatan pelat nomor kendaraan di Jalan Naripan, Kota Bandung.

Mang Yunus berdagang menggunakan gerobak biru yang warnanya tampak pudar di bahu sebelah kiri Jalan Naripan. Berukuran lebar 80 centimeter dan panjang satu meter setengah, gerobak dengan sedikit terpal biru difungsikannya untuk berteduh dari sengatan matahari dan hujan.

Lapak bertuliskan "Citra Stempel Kilat" menjadi ciri khas tersendiri yang berada dekat area bantaran Sungai Cikapundung, Jalan Naripan tersebut.

Tak hanya pembuatan pelat nomor, Mang Yunus juga membuat jasa pembuatan stempel, parket, hingga medali. Dia mengaku ikhlas menjalani usahanya walaupun zaman kini teknologi kian maju melalui desain serta menjamurnya usaha tersebut.

"Puluhan tahun lalu yang jualan belum banyak seperti ini. Dulu langganan saya banyak yang memesan bahkan dari luar kota, seperti Cianjur, Subang, Jatinangor, Sumedang, dan lainnya. Karena di sana belum ada. Sekarang sudah menjamur," ujar Mang Yunus di depan gerobak usahanya, di Jalan Naripan, Kota Bandung, Jumat (7/12/2018).

Heboh Bilik Asmara yang Disewakan di Lapas Sukaminkin, Kalapas Sukamiskin Menjawab Seperti Ini

Yunus menceritakan masih terus bertahan menjalankan usaha tersebut karena tidak memiliki pilihan usaha lainnya. Menurutnya, usaha yang ditekuninya tersebut sudah dipahami cara pembuatannya.

"Saya juga bersyukur dari sumber satu-satunya mata pencaharian bisa menafkahi keluarga sampai sekarang. Hingga anak-anak saya sudah kerja," ujarnya seraya mengenang saat berjualan dahulu.

Yunus menuturkan masih mempertahankan kualitas pembuatan dari usahanya. Semisal, membuat ukiran corak khusus pada stempel. Tetapi kini mulai dikurangi karena faktor penglihatan mata yang mulai berkurang.

Menurutnya, walaupun usaha serupa kini sepi peminat. Ia bersyukur masih ada langganan yang memesan barang dilokasi usahanya tersebut.

Breaking News, Nenek Iyar yang Tengah Berkebun di Sukabumi Tewas Tertimbun Longsor

"Kalau lagi ramai borongan bisa mencapai untung dua juta rupiah. Tapi itu terhitung sangat jarang. Bahkan pernah sepi sama sekali enggak ada yang beli. Ini juga dari pagi belum ada yang beli," kata pria kelahiran Garut itu.

Yunus mengatakan tidak mematok secara khusus harga dari jasa pembuatan barang-barang yang dijualnya. Hal itu, ucapnya, harga bisa sesuai kesepakatan tawar menawar antara pembeli dengan dirinya.

"Harganya sendiri tergantung jenis barangnya. Mulai termurah dari Rp. 35 ribu hingga Rp. 300 ribu. Tapi bisa ditawar," ujar Yunus yang menanti pembeli dari sejak pukul 08.00 hingga 17.00 WIB tersebut.

Penulis: Ery Chandra
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved