Jumlah Penderita HIV/AIDS di Garut Terus Meningkat, Tahun Ini Ketambahan 81 Penderita baru

Data yang dimiliki Dinas kesehatan Kabupaten Garut, tiap tahunnya penderita HIV dan Aids terus menunjukkan grafik peningkatan.

Jumlah Penderita HIV/AIDS di Garut Terus Meningkat, Tahun Ini Ketambahan 81 Penderita baru
Tribun Jabar/Firman Wijaksana
Wakil Bupati Garut, Helmi Budiman saat ditemui di depan rumahnya, Senin (8/10/2018). 

TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Garut terus bertambah.

Data yang dimiliki Dinas kesehatan Kabupaten Garut, tiap tahunnya penderita HIV/AIDS terus menunjukkan grafik peningkatan.

Sejak tahun 2013 sampai tahun 2017 jumlah penderita HIV/AIDS mencapai 458 orang.

Jumlah tersebut bisa terus bertambah karena belum semua penderita mau memeriksakan diri.

Wakil Bupati Garut, Helmi Budiman Budiman, menuturkan di tahun ini saja terdapat 81 orang penderita baru yang terpapar HIV. Ia mengaku prihatin dengan peningkatan grafik penderita HIV/AIDS.

"Semua komponen harua bersama-sama memerangi penyakit menular ini. Jadi peringatan juga bagi semua untuk meningkatkan keimanan," kata Helmi Budiman, Minggu (2/12).

Helmi Budiman melanjutkan, meningkatnya penderita HIV/AIDS menjadi peringatan bagi semua pihak. Pola pergaulan dan kehidupan yang sehat harus dikedepankan. Terutama bagi generasi milenial.

"Harus waspada penyakit ini. Jangan sampai mencoba narkoba, seks bebas karena itu jadi salah satu penyebabnya," ucapnya.

Menurutnya, masyarakat harus menjauhi cara penularan HIV/AIDS. Bukannya menjauhi penderita yang terpapar HIV/AIDS. Ke depan semua komponen bisa bekerja sama untuk memerangi penularan HIV/AIDS.

"Penyakit ini hanya bisa dicegah dari diri sendiri. Harus tahu apa saja penyebabnya dan jauhi cara penularannya," ujarnya.

Ketua Sabanda Sariksa, Bayu, salah satu komunitas pegiat HIV/AIDS mengatakan, peringatan hari HIV/AIDS sedunia diharap bisa menghilangkan diskriminasi kepada penderita. Selama ini masyarakat sering menilai buruk kepada penderita Aids.

"Stop stigmatisasi dan diskriminasi terhadap penderita Odha (orang dengan HIV/AIDS)," ucap Bayu.

Ia menilai pengetahuan masyarakat terkait HIV/AIDS masih sangat kurang. Akhirnya muncul stigma negatif kepada penderita Aida. Ujungnya penderita tak mau bersosialisasi.

"Bahkan lebih parah, penderita tak mau memeriksakan diri ke dokter. Padahal mereka memerlukan penanganan," katanya. (firman wijaksana)

Editor: Ravianto
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved