Musim Hujan Selalu Buat Gelisah Produsen Kerupuk Jengkol Ini, Omzet Turun Jauh

Saat memasuki musim hujan, waktu penjemuran kerupuk mampu memakan waktu hingga 4-5 hari, sedangkan dimusim kemarau, paling lama dua hari penjemuran.

Musim Hujan Selalu Buat Gelisah Produsen Kerupuk Jengkol Ini, Omzet Turun Jauh
Tribun Jabar/ Hakim Baihaqi
Aban (72) dan kerupuk jengkol buatannya 

Laporan wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Aban (72), seorang produsen kerupuk jengkol di Kampung Babakan Limus, Desa Cihanjuang, Desa Cimanggung, Kabupaten Sumedang, mengaku gelisah saat musim hujan tiba.

Hal tersebut dikarenakan saat memasuki musim hujan, waktu penjemuran kerupuk mampu memakan waktu hingga 4-5 hari, sedangkan dimusim kemarau, paling lama dua hari penjemuran.

"Kalau musim hujan, produksi bisa berkurang sampai 50 persen, kemarau itu ratusan kilogram, sedangkan musim hujan tidak lebih dari 100 kilogram," kata Aban di tempat produksi kerupuk jengkol miliknya di Kampung Babakan Limus, Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Senin (26/11/2018).


Terkait omzet kata Aban, saat musim kemarau ia mampu meraup omzet hingga belasan juta rupiah, namun pada musim hujan, hanya Rp 5 juta.

Ia menambahkan, kendala tersebut terjadi karena Aban masih menggunakan alat tradisional untuk pengolahan kerupuk jengkol, sehingga kualitas kerupuk tersebut ditentukan dari terik matahari.

"Kalau punya oven, mungkin akan sama kaya kemarau, tetapi ini kan tidak, kompor saja masih, pakai kayu bakar," katanya.

Aban pun mengatakan, bahan baku pembuatan kerupuk jengkol pun kerap mengalami kenaikan setiap tahunnya, namun ia enggan menurunkan kualitas atau menaikan harga setiap perkemasannya.

Manajer USAID Jalin Jabar Sebut,di Jabar Setiap Hari 9 Bayi Baru Lahir Meninggal Dunia

"Setiap minggu, saya membutuhkan 3 kwintal tepung tapioka, satu kwintalnya seharga Rp 1,2 juta, lalu jengkol kadang bisa naik sampai Rp 80 ribu perkilogram," katanya.

Pria kelahiran Garut, 12 November 1946 yang merupakan satu-satunya produsen kerupuk jengkol di Kecamatan Cimanggung ini, masih begitu terampil mengolah buah jengkol (Archidendron pauciflorum), menjadi kerupuk jengkol yang masih digandrungi oleh berbagai lapisan masyarakat.

Pada 1970, Aban yang memiliki 11 orang anak ini mengaku frustasi karena tidak kunjung mendapatkan pekerjaan layak, sedangkan kebutuhan sehari-hari untuk anak dan istri harus tetap dipenuhi.

Saat merasakan kesulitan mendapatkan pekerjaannya itu, kakak kandung dari Aban, memberikan ide dan cara untuk mencoba mengolah jengkol yang banyak tumbuh pada saat itu untuk diolah menjadi produk bernilai ekonomis.

"Dengan modal seadanya, saya memutuskan untuk menjadi pembuat kerupuk jengkol, tanpa pikir panjang lagi," katanya.

Hindari 4 Makanan Ini Jika Anda Tak Ingin Mengantuk Saat Bekerja di Siang Hari

Hilang Hampir Seminggu, Nenek Agustina Pengungsi Gempa di Mamasa Ditemukan di Tengah Hutan

Penulis: Hakim Baihaqi
Editor: Seli Andina Miranti
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved