Bulan Ramadan, Bulan Sibuk Bagi Aban Si Produsen Kerupuk Jengkol, Permintaan Meroket

Keuntungan selama bulan ramadan, kata Aban, peningkatan omzet bisa mencapai 50-100 persen dibandingkan bulan lainnya.

Bulan Ramadan, Bulan Sibuk Bagi Aban Si Produsen Kerupuk Jengkol, Permintaan Meroket
Tribun Jabar/ Hakim Baihaqi
Aban (72) dan kerupuk jengkol buatannya 

Laporan wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Aban (72), produsen kerupuk jengkol di Kampung Babakan Limus, Desa Cihanjuang, Desa Cimanggung, Kabupaten Sumedang, mengaku, bulan Ramadan adalah bulan tersibuk, karena kebanjiran pesanan makanan berbahan dasar jengkol itu.

Di bulan Ramadan, kata Aban, terhitung dari tanggal 1 hingga 28 ramadan, separuh waktunya selama bulan itu, dihabiskan di tempat produksi kecil yang berada disamping rumahnya.

"Dalam satu hari, bisa menghabiskan 100 bungkus kerupuk jengkol berisi 12 biji, pembeli banyak datang biasanya menjelang magrib," kata Aban di Kampung Babakan Limus, Desa Cihanjuang, Minggu (26/11/2018).


Keuntungan selama bulan ramadan, kata Aban, peningkatan omzet bisa mencapai 50-100 persen dibandingkan bulan lainnya.

"Bulan biasa belasan juta, kalau ramadan sampai Rp 20 juta lebih, pembeli juga datang dari luar kota," kata Aban.

Kendati kebanjiran pesanan, kata Aban, ia memproduksi hingga melakukan pemasaran terhadap produksian kerupuk jengkolnya itu seorang diri, tanpa bantuan dari anggota keluarga atau tetangga.

"Sudah biasa sendiri dari dahulu juga," katanya.

Tak Ada Nama Uu Ruzhanul Ulum dalam 15 Saksi Kasus Korupsi Dana Hibah Kabupaten Tasikmalaya

Pembeli kerupuk jengkol, Yeni (38), mengatakan, kerupuk jengkol buatan Aban, menurut ia lebih murah dibandingkan kerupuk jenis lainny di Kecamatan Cimanggung, karena hanya merogoh kocek Rp 10 ribu, bisa mendapatkan 12 keping kerupuk berukuran besar.

"Kerupuknya saya tahu juga baru digoreng, tidak disimpan lama kaya kerupuk - kerupuk lain," katanya.

Pria kelahiran Garut, 12 November 1946 yang merupakan satu-satunya produsen kerupuk jengkol di Kecamatan Cimanggung ini, masih begitu terampil mengolah buah jengkol (Archidendron pauciflorum), menjadi kerupuk jengkol yang masih digandrungi oleh berbagai lapisan masyarakat.

Pada 1970, Aban yang memiliki 11 orang anak ini, mengaku frustasi karena tidak kunjung mendapatkan pekerjaan layak, sedangkan kebutuhan sehari - hari untuk anak dan istri harus tetap dipenuhi.

Saat merasakan kesulitan mendapatkan pekerjaannya itu, kakak kandung dari Aban, memberikan ide dan cara untuk mencoba mengolah jengkol yang banyak tumbuh pada saat itu untuk diolah menjadi produk bernilai ekonomis.

"Dengan modal seadanya, saya memutuskan untuk menjadi pembuat kerupuk jengkol, tanpa pikir panjang lagi," katanya.

Sampah dari Berbagai Negara Hanyut Sampai ke Pesisir Inggris, Termasuk Sampah dari Indonesia

Terlalu Sering Melihat Penampilan Orang Lain di Medsos Bisa Bikin Perempuan Tak Percaya Diri

Penulis: Hakim Baihaqi
Editor: Seli Andina Miranti
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved