Kaum Milenial Harus Cerdas Menentukan Pilihan di Pemilu Tahun Depan, Jangan Terprovokasi Jadi Buzzer

Pemilih milenial diharapkan dapat memilih secara cerdas saat gelaran pemilihan legislatif dan presiden tahun depan.

Kaum Milenial Harus Cerdas Menentukan Pilihan di Pemilu Tahun Depan, Jangan Terprovokasi Jadi Buzzer
TRIBUN JABAR/MUHAMAD NANDRI PRILATAMA
Ilustrasi pemilih milenial. 

Laporan wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kepala Studi Politik dan Demokrasi Universitas Padjajaran (Unpad), Ari Ganjar Herdiansyah, mengatakan, kaum milenial harus memimpin calon presiden dan wakil presiden Republik Indonesia berdasarkan akal sehat.

Berkaca pada pemilu 2014, ada sebuah euforia pada kaum milenial atau generasi muda yang cenderung menjatuhkan pilihan kepada pemimpin yang antielite dan disukai banyak masyarakat.

"Banyak yang terjebak lalu menjatuhkan pilihannya," kata Ari di Gedung Fisip Unpad Jatinangor, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jumat (23/11/2018).

Fenomena pada pemilu 2014 itu, kata Ari, terjadi karena para calon kerap memanfaatkan sejumlah media, terutama media sosial, untuk meyakinkan dan menarik perhatian para pemilih.

Kaum milenial saat ini, kata Ari, seharusnya mencari calon pemimpin harus berdasarkan beberapa indikator, yakni cerdas dan memiliki kualitas untuk memimpin.

"Saya rasa masa itu sudah lewat, kemungkinan para pemilih di pemilu 2019 (pemilih milenial) bersikap rasional," katanya.

Ilustrasi pemilih muda.
Ilustrasi pemilih muda. (Tribun Jabar/Ery Chandra)

Selain itu, tantangan di pemilu 2019 kaum milenial pun banyak terprovokasi di media sosial dan menjadi buzzer untuk proganda terkait pemilihan presiden 2019.

Di media sosial saat ini, sejumlah akun mengampanyekan dua pasangan calon presiden dan wakil presiden Indonesia. Akun tersebut berupaya saling menjatuhkan dengan cara mempengaruhi warganet.

Dalam praktiknya ini, buzzer politik biasanya menggunakan akun palsu untuk mendiskreditkan salah satu pasangan calon, salah satunya menyebarkan berita hoaks.

"Justru seharusnya, penggunaan medsos ini dibawa ke arah positif dengan memanfaatkan fitur yang ada," katanya.

Penulis: Hakim Baihaqi
Editor: taufik ismail
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved