Bukan Melalui Tes, Begini Kriteria Pengangkatan CPNS Menurut Dedi Mulyadi

Ketua DPD I Partai Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi melanjutkan ikhtiarnya mengadvokasi tenaga honorer agar dapat diangkat menjadi

Bukan Melalui Tes, Begini Kriteria Pengangkatan CPNS Menurut Dedi Mulyadi
istimewa
Dedi Mulyadi menerima Forum Komunikasi Honorer K2 Indonesia di Purwakarta, Jumat (23/11/2018. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Haryanto

TRIBUNJABAR.ID, PURWAKARTA - Ketua DPD I Partai Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi melanjutkan ikhtiarnya mengadvokasi tenaga honorer agar dapat diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Menurut Dedi Mulyadi, keberadaan mekanisme tes CPNS tidak memberikan solusi bagi peningkatan hajat hidup tenaga honorer.

Hal ini disampaikan Ketua Tim Pemenangan Jokowi-Maruf Amin, Jawa Barat itu dalam sebuah pertemuan di kawasan Kota Bukit Indah, Plaza Hotel, Purwakarta, Jumat (23/11/2018).

Pertemuan itu digelar dalam rangka silaturahmi Forum Komunikasi Honorer K2 Indonesia. Para tenaga honorer dari berbagai daerah di Indonesia hadir dalam pertemuan itu.

“Jadi pengangkatan itu harus sesuai dengan lama masa pengabdian. Karena judulnya pengabdian, maka harus setia pada Pancasila dan UUD 1945. Saya kira ini lebih soft dibandingkan tes yang kita gak tahu nanti yang lulus tes setia apa tidak,” kata Dedi Mulyadi.

Menurut Dedi Mulyadi, terdapat indikator lain yang tidak ditemukan dalam diri para peserta tes. Indikator tersebut adalah keikhlasan. Tenaga honorer sudah teruji keikhlasannya dalam menjalankan pengabdian selama bertugas. Menurut dia, aspek ini harus menjadi pertimbangan utama.

Usai Sebut CIA Tak Salahkan MBS Terkait Pembunuhan Khashoggi, Trump Jawab Ini Soal Rekaman Punya CIA

“Kunci utama itu kan kerja ikhlas. Tenaga honorer itu adalah orang-orang yang mau bekerja tanpa ada penghasilan tetap. Seharusnya, mereka kan menjadi prioritas. Saat ini kan banyak juga pegawai yang sudah memasuki masa pensiun,” ujarnya.

Saat menjabat sebagai Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi pernah menggulirkan program ‘Guru Yata Bhati”. Program ini berisi pemberian insentif terhadap tenaga honorer dari asalnya Rp 25 ribu menjadi Rp 500 ribu.

“Kemudian saya pernah ajukan ke pemerintah pusat agar pengangkatan honorer ini dijadikan prioritas. Meskipun, pendidikannya masih SMA, nanti setelah diangkat kan mereka bisa kuliah,” katanya.


Sambutan Baik Tenaga Honorer

Ketua Umum Forum Honorer K2 Indonesia Titi Purwaningsih menyambut baik keinginan Dedi Mulyadi. Ia berterima kasih karena Dedi bersedia melakukan pendampingan terhadap gerakan tenaga honorer dalam memperjuangkan nasibnya.

“Sejak awal, keinginan kami memang begitu. Kami ingin diangkat menjadi PNS tanpa melihat usia, masa bakti kami di institusi negara harus menjadi pertimbangan utama,” katanya.

Menurut Titi Purwaningsih, di antara rekan tenaga honorer yang sedang berjuang, banyak yang sudah menjalani masa bakti selama 25 tahun. Akan tetapi, masa bakti yang lama itu tidak berbanding lurus dengan perhatian dari pihak pemerintah.

“Kami meminta keadilan baik dari segi peraturan maupun pelaksaan terhadap peraturan itu. Semoga di era Pak Jokowi ini perjuangan kami bisa tercapai,” kata Titi Purwaningsih.

Penulis: Haryanto
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved