Tempat Ibadah Ramah Difabel di Bandung Minim, Pengguna Kursi Roda Sulit Masuk

Harapan difabel atau pengguna kursi roda di Kota Bandung mendapatkan akses masuk ke tempat ibadah belum terpenuhi semua

Tempat Ibadah Ramah Difabel di Bandung Minim, Pengguna Kursi Roda Sulit Masuk
Tribun Jabar/Ery Chandra
Seorang difabel saat menuju sebuah rumah ibadah di Kota Bandung, Selasa (6/11/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ery Chandra

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG- Tempat peribadatan keagamaan merupakan bagian layanan publik yang semestinya bisa diakses oleh semua orang, termasuk difabel yang memeluk keagamaan masing-masing. 

Harapan difabel atau pengguna kursi roda di Kota Bandung, Jawa Barat untuk memperoleh akses layanan publik mumpuni khususnya di rumah ibadah belum secara menyeluruh tercapai.

Sebagaimana tercantum dalam Undang-undang (UU) Nomor 8 Tahun 2016 tentang Pemenuhan Hak dan Perlindungan Penyandang Disabilitas.

Di Kota Bandung, juga diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) Kota Bandung Nomor 26 Tahun 2009 Tentang Kesetaraan Dan Pemberdayaan Penyandang Cacat. 

Data yang diperoleh Tribun Jabar dari Kementerian Agama (Kemenag) Kota Bandung 2017 mencatat jumlah tempat peribadatan dengan membaginya menurut jenis keagamaan di Kota Bandung yakni Agama Islam tercatat ada 2.787 Masjid dan 912 Langgar atau Mushala.

Kalah di Duel El Clasico Lawan PSMS Medan, Mario Gomez Tetap Yakin Persib Bandung Bisa Juara Liga 1

Tempat peribadatan agama Kristen terdapat 68 Gereja. Agama Katholik tercatat ada 74 Gereja. Agama Hindu ada 2 Pura. Sedangkan agama Budha terdapat 23 Vihara, dan tiga bangunan Klenteng.

Grafis minimnya rumah ibadah yang ramah difabel di Kota Bandung.
Grafis minimnya rumah ibadah yang ramah difabel di Kota Bandung. (Tribun Jabar/Ery Candra)

Dari penelusuran lapangan Tribun Jabar secara random di 15 Kecamatan dari total 30 Kecamatan di Kota Bandung menunjukkan beberapa fakta bahwa dari sekian banyak tempat peribadatan diantaranya belum mengakomodir kebutuhan para difabel.

Beberapa tempat peribadatan masih sukar dijangkau oleh difabel karena belum aksesnya fasilitas bangunan.

Semisal, tidak terdapatnya rambatan ramp (bidang miring penganti tangga) yang itu menyulitkan bagi pengguna kursi roda, banyaknya anak tangga, tidak ada hand rail (tempat untuk berpegangan) di jalan datar dan naik, sempitnya kamar mandi, dan lain sebagainya. 

Halaman
1234
Penulis: Ery Chandra
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved