Ini Sejarah Karinding, Alat Musik yang Dulu Jadi Teman Petani saat Beraktivitas di Sawah

Para petani berkumpul di area sawah untuk memainkan karinding, itu dilakukan merupakan upaya ucap syukur saat mendapatkan hasil melimpah.

Ini Sejarah Karinding, Alat Musik yang Dulu Jadi Teman Petani saat Beraktivitas di Sawah
tribunjabar/hakim baihaqi
Abah Olot 

Laporan wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Karinding yang merupakan alat musik mengeluarkan suara vibrasi atau nada getar, biasa dimainkan oleh orang tua terdahulu untuk menemani aktivitasnya saat sedang bercocok tanam di sawah.

Endang Sugriwa (54), tokoh pelestari karinding dari Kampung Manabaya, Desa Sindangpakuwon, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, bercerita, di kampung tersebut, karinding selalu dibawa oleh petani saat berada di sawah.

"Saat merasa jenuh, dahulu, para petani, memainkan ini di sawah bersama yang lainnya," kata Abah Olot di Kampung Manabaya, Senin (22/10/2018).


Terutama, setelah masa panen, kata Abah Olot, para petani berkumpul di area sawah untuk memainkan karinding, itu dilakukan merupakan upaya ucap syukur saat mendapatkan hasil melimpah.

Tak hanya itu, Abah Olot menyebutkan, alat musik karinding ini pun memiliki fungsi sebagai pengusir hama, karena pada saat itu belum ditemukan cairan pengusir serangga.

"Dari getaran itu, hama-hama kabur, terutama hama burung," katanya.

Sempat mati suri selama puluhan tahun, di 2004, Abah Olot bersikeras kepada orangtuanya untuk meminta diajarkan bagaimana cara membuat karinding, berbekal ilmu selama selama lebih dari tiga belajar pembuatan, ia berhasil salah satu alat musik Sunda di Jawa Barat.

60 Truk Disiakan DLHD untuk Angkut Sampah di Pasar Pasalaran yang Sudah Melebar ke Jalan

Setelah mampu membuat sendiri, ia lantas mengajak rekan-rekan di kampungnya tersebut untuk memainkan karinding, tetapi sebagian besar dari kawannya itu masih begitu asing ketika diperkenalkan karinding buatannya itu.

Namun pada 2008, setelah karinding kembali muncul, Abah Olot bersama rekan-rekannya diminta untuk mengiringi kesenian modern perkusi asuhan seorang budayawan Bandung, yaitu Budi Dalton, dari Universitas Pasundan (Unpas).

Selepas berkolaborasi dengan musik perkusi modern, ia diundang oleh penggiat musik underground, untuk memperkenalkan karinding di Common Room yang berada di kawasan Dago, Kota Bandung.

"Mereka tertarik, terutama anak-anak underground. Ya sudah, alat-alat yang ada di rumah, abah kirim untuk mereka mainkan, di situ lah muncul nama group Karinding Attack, mudah-mudahan karinding ini abadi," kata Abah Olot.

Hadir di Tasikmalaya, Maruf Amin Memberikan Pesan agar Santri Berperan dalam Pembangunan Bangsa

Penulis: Hakim Baihaqi
Editor: Seli Andina Miranti
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved