Abah Olot, Pria yang Hidupkan Kembali Alat Musik Karinding, Kini Disukai Kaum Muda

Endang Sugriwa (54) alias Abah Olot, berhasil memperkenalkan kembali alat musik buhun Sunda yang dianggap telah punah, karinding.

Abah Olot, Pria yang Hidupkan Kembali Alat Musik Karinding, Kini Disukai Kaum Muda
tribunjabar/hakim baihaqi
Abah Olot 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Endang Sugriwa (54) alias Abah Olot, mantan pekerja serabutan di Kampung Manabaya, Desa Sindangpakuwon, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, berhasil memperkenalkan kembali alat musik buhun Sunda yang dianggap telah punah, karinding.

Alat musik yang terbuat dari bambu gombong atau pelepah kawung ini, memainkannya dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipukul diujung bagian kanan dan akan mengeluarkan nada getar atau vibrasi.

Hari Santri Nasional, ASN di Pemda KBB Pun Pakai Baju Muslim

Awal mula musik karinding kembali ke permukaan, sebelum 2004, Abah Olot merasa risau, ketika seorang teman sepermainannya membawa buku berjudul "200 alat musik Sunda yang telah punah", salah satunya adalah karinding.

Mendengar informasi dari buku tersebut, Abah Olot membantah bila alat musik karinding telah punah karena pada waktu itu ia rutin memainkan alat musik karinding bersama Endang Sumarna, ayahnya.


"Jujur, saya mendengar kabar tersebut, merasa sakit hati," ujar Abah Olot di Kediamannya di Kampung Manabaya, Desa Sindangpakuwon, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Senin (22/10/2018).

Tepat di 2004, Abah Olot bersikeras kepada orangtuanya untuk meminta diajarkan bagaimana cara membuat karinding, berbekal ilmu selama selama lebih dari tiga belajar pembuatan, ia berhasil membuat salah satu alat musik Sunda di Jawa Barat.

Setelah mampu membuat sendiri, ia lantas mengajak rekan - rekan di kampungnya tersebut untuk memainkan karinding, tetapi sebagian besar dari kawannya itu masih asing ketika diperkenalkan kepada karinding buatannya itu.

Namun, setelah meyakinkan bahwa karinding merupakan warisan budaya Sunda, mereka percaya dan sama - sama memainkan karinding, lalu mulai dikenal oleh banyak orang, terutama di wilayah Kecamatan Cimanggung dan sekitarnya.


"Setelah dari situ, banyak juga masyarakat dari luar Cimanggung, terutama dari Cicalengka, meminta abah untuk mengajarkan teknik bermain atau membuat karinding," kata Abah Olot.

Pada 2008, setelah karinding kembali muncul, Abah Olot bersama rekan - rekannya diminta untuk mengiringi kesenian modern perkusi asuhan seniman Budi Dalton, dari Universitas Pasundan (Unpas).

Selepas berkolaborasi dengan musik perkusi modern, ia diundang oleh penggiat musik underground, untuk memperkenalkan karinding di Common Room yang berada di kawasan Dago, Kota Bandung.

"Mereka tertarik, terutama anak - anak underground. Ya sudah, alat - alat yang ada di rumah, abah kirim untuk mereka mainkan, di situ lah muncul nama group Karinding Attack, mudah - mudahan karinding ini abadi," kata Abah Olot.

Penulis: Hakim Baihaqi
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved